Social Icons

Tampilkan postingan dengan label CERPEN/FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN/FF. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

-Anjing-



Pagi sekali anjingku sudah keluar mencari makan, saat aku masih terlelap. Padahal, biasanya aku selalu terbangun karena gonggongannya. Tapi, pagi ini tidak, dia tidak menggonggong membangunkanku. Entah, apa karena ia sudah bosan menggonggong atau karena ia mulai mengerti bahwa aku sama sekali tak suka ia terlalu sering menggonggong.

Aku terbangun agak siang. Agak heran melihat tak ada sedikit pun kotoran yang harus kubersihkan. Anjingku mulai pintar, ia tak lagi mengotori dan merusak barang-barangku. Semua masih tertata rapi pada tempatnya. Pekerjaanku agak berkurang hari ini.

Pukul 15.00, waktunya anjingku pulang. Ia selalu tahu waktu, kapan harus pulang dan kapan harus pergi. Jadi aku tak perlu repot-repot mencarinya bila gelap mulai membayang. Kutunggu ia di depan pintu, ia selalu senang aku melakukan itu. Beberapa menit kemudian, telah kucium bau anjingku. Agak telat beberapa menit dari biasanya. Dari balik pagar, kulihat anjingku berjalan menuju rumahku. Seperti biasanya, ia pulang tak sendiri. Seekor anjing betina mengekor di belakangnya. Anjingku memang memesona, banyak anjing betina yang tergila-gila padanya. Namun, anjing betina yang mengekornya kali ini beda, sepertinya mahal, terlihat dari seluruh tubuhnya yang tampak terawat.

"Njing ...." Kusapa ia ketika menapakkan kaki di halaman.

Plakkk.... Anjingku menamparku. Aneh, bagaimana bisa seekor anjing menamparku? Lalu, ia mulai menyerangku dengan gonggongannya. Tampaknya ia marah karena kupanggil Anjing.

Aneh, anjing kok tak mau dipanggil Anjing.

-r-

Gambar: dari sini
readmore...

Kamis, 04 April 2013

-Sirius di Langit Malam-



"Lihat, itu Sirius!" Kamu menatap ke langit, sambil menunjuk satu bintang paling terang.

"Sirius? Siapa Sirius?" Aku mengernyitkan dahi. Lalu, kamu tarik telunjukmu ke kiri, lalu turun sedikit ke bawah.

"Kamu." Telunjukmu tepat berada di antara kedua mataku. "Kau tak percaya?" Kamu menatap lekat mataku. Dalam, sangat dalam. Degup jantungku berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

"Lihat, kamu telah memenjarakanku dalam kedua matamu." Semakin dekat. Dekat dan lekat, hingga dapat kuikuti irama desah nafasmu yang perlahan-lahan kautarik, lalu kembali kauembuskan.

Aku membatu. Bukan kata-katamu tak berhasil meluluhkanku, bukan aku tak dapat merasakan ketulusanmu. Sungguh, bukan itu. Aku tahu, seberapa tulus kamu dengan segala apa yang kamu ucap.

"Kenapa? Masih belum percaya?" Kini tinggal beberapa senti wajahmu di depanku.

"Bukan ...."

"Lalu apa? Apa yang kuusahakan selama ini masih kurang?"

"Bukan ...."

"Apa ada yang kurang dariku?"

"Bukan! Kubilang bukan!" Mataku berkilat, memerah. "Apa kamu tak sadar dengan tembok yang sudah kaubangun sendiri?" Aku memalingkan muka.

"Sayang ... Ayo, berangkat. Aku sudah siap." Dari dalam rumah, Aliya muncul dengan gaun merahnya. Ah, benar-benar mirip seperti aku waktu muda.

"Eh, iya ... ayo!" Kamu, tergagap di depan putriku. Apa sekarang kamu masih bisa melihat Siriusmu ini, sedangkan matahari di sampingmu lebih menyilaukan? Ya, aku memang Sirius. Sirius di langit malammu. 

-r-

Gambar: dari sini
readmore...

-Lintah-


"Mau makan apa, Sayang?" Entah kenapa tiba-tiba kekasihku menawariku makanan saat kencan berdua. Sungguh, baru kali ini dia begitu. Sebenarnya sebagai laki-laki, dia terlalu egois menurutku.

"Terserah sajalah, kamu yang pilihkan," balasku, masih tak mengerti. Apa mungkin dia benar-benar sudah berubah? Semoga saja benar.

"Ya sudah, kita pesan kozhuva fish fray saja ya?" Tanya kekasihku sambil menunjuk pada daftar menu. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Jujur, aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Kekasihku ini apa tidak salah makan tadi?

"Kamu kenapa, Sayang? Kok diam saja?"

"Ah, nggak papa kok," Kuusahakan tersenyum meski sebenarnya masih terheran-heran. Apa mungkin dia sudah menyadari keegoisannya dan ingin mencoba memperbaiki semuanya? Atau dia sudah punya firasat kalau aku akan meninggalkannya?

"Begini, Sayang ... Sebenarnya aku mengajakmu ke sini karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Wajahnya berubah serius, seperti ada sesuatu yang ia tahan.

"Sama ... Aku juga." Balasku mantap.

"Oh, kalau begitu, silakan kamu duluan saja nggak papa ...." Dia mempersilakanku bicara duluan. Aneh, bukankah biasanya dia tak memberiku kesempatan untuk bicara? Perasaanku jadi tak enak. Sepertinya memang ada yang sedang ia sembunyikan.

"Kamu saja duluan, sepertinya ada yang sedang kamu tahan dari tadi?" Langsung kutanyakan keganjilan yang sedari tadi kutangkap dari raut wajahnya.

"Oke ... jadi begini, besok aku ada tour ke Bali dengan teman-teman kampus ...."

"Terus?"

"Aku bisa pinjam uang kamu dulu tidak? Soalnya ATM-ku lagi limit, belum ada kiriman dari ortu." Akhirnya aku tahu kenapa dia bersikap sok peduli padaku dari tadi. Ternyata memang ada maunya. Dasar lelaki tak berguna!

"Mmm ... Maaf, tapi aku juga sedang tidak punya uang. Uang bulan ini pas untuk beli buku-buku," jawabku, terpaksa berbohong.

"Oh, begitu ya?" Wajahnya tampak lesu, setelah ia gagal menipuku untuk kesekian kalinya. "Oya, tadi kamu mau bicara apa?" Dengan malas ia mencoba menanyakan padaku.

"Hmm ... Begini Lex, sepertinya aku tidak bisa lagi bersamamu ...."

"Maksudmu?"

"Aku mau kita putus," jawabku mantap.

"Lho? Apa alasannya?"

"Alasan? Apa kamu masih butuh alasan? Kamu kira aku ini perempuan yang bisa kamu peras, kamu jadikan pembantu, kamu jadikan sopir? Kamu pikir aku perempuan bodoh yang bisa kamu bohongi terus-menerus?" Aku sedikit kalap. Emosiku tumpah seketika. Sepertinya pilihanku untuk meninggalkan dia memang tepat. Aku tak butuh lintah seperti dia!

-r-

Gambar: dari sini
readmore...

-Hidup Ini Indah-


Lengkungan kuning masih tampak di langit, dikelilingi ribuan cahaya kelap-kelip, menyapa satu sama lain dalam kedipnya. Aku pun masih setia menatap mereka ditemani hembusan angin dalam heningnya malam. Terasa segar, namun menusuk. Bukan kulit, tapi di dalam sini. Ada sesuatu yang belum bisa kuabaikan demi meleburnya jiwaku bersama ketenangan ini. Masih ada sedikit goresan di sini, di dalam sini.

Hidup sempurna masih kumiliki beberapa hari lalu, sebelum sebuah truk melindas sebelah kakiku. Hal yang sangat mustahil jika kakiku masih utuh. Cinta sempurna dari seorang kekasih pun kupikir masih kumiliki beberapa hari yang lalu, sebelum sebelah kakiku terpotong.

"Dalam sukamu, dalam dukamu, aku akan selalu ada." Masih terngiang kata-katanya di telingaku, meski sudah beberapa tahun lalu ia ucapkan. Dulu, kupikir itu nyata.

Tapi, aku beruntung, dalam ketidaksempurnaan ini kutemukan cinta yang sebenarnya. Cinta dari mereka yang selalu di sampingku hingga saat ini, tanpa memandang setiap jengkal dari tubuhku. Hidup ini adil, ada yang datang, ada yang pergi, ada yang tetap tinggal. Hidup ini indah, karena dalam setiap kepahitannya masih tersimpan secawan madu yang siap menggantikannya. Dan memang beginilah adanya sebuah kehidupan.

-r-

Gambar: dari sini
readmore...

Kamis, 07 Maret 2013

-Dunia Aku dan Kamu-



Hari ini aku melihatmu lagi. Masih sama seperti biasa, kamu cantik. Masih sama seperti biasa pula, aku mencintaimu. Tak pernah berubah. Aku selalu melihatmu, selalu. Namun, tak pernah sekalipun kamu coba melihat ke arahku. Ke tempat seseorang yang telah lama diam-diam menitipkan hatinya padamu. Kamu, tak pernah sekalipun, walau hanya sekadar melirik.

Hari ini aku melihatmu lagi. Masih sama seperti biasa, kamu cantik. Masih sama seperti biasa pula, aku tersiksa. Kamu bersamanya, seolah-olah aku hanya debu yang beterbangan dalam dunia yang kalian ciptakan sendiri. Meski sekuat apapun hatiku berteriak, kamu tak pernah mampu mendengarnya, pula merasakannya. Aku hanya seorang figuran dalam skenario kalian. Hatiku menjerit, hatimu berkelit.

Hari ini aku melihatmu lagi. Tak sama, kamu lebih cantik. Tak sama, kamu mendekat padaku. Aku terkesima, matamu menatap mataku. Kamu membelai hatiku, aku tersipu. Saat inilah aku yakin, duniamu berpindah padaku. Kamu berpijak pada bumi yang sama denganku. Kita berdua -aku dan kamu- melewati detik-detik yang selalu kunanti.

Hari ini, saat kamu melihatku dan aku melihatmu, dia datang lagi. Menarikmu, membawamu pulang ke dunia kalian. Saat inilah duniaku runtuh. Dunia kita, yang baru saja tercipta tiba-tiba hancur. Duniaku dan kamu telah kiamat. Aku berlutut, kamu beringsut. Hatiku kalut, semua terenggut.

Gambar: dari sini

*ini gagal juga gagal*
readmore...

-Dia-



Pagi sempurna, mentari yang hangat dan kopi. Aku sedang duduk berhadapan dengannya. Dia yang selalu memompa denyut jantungku hingga berkali-kali lipat. Dia yang selalu mengisi segala titik dalam fokusku. Dia yang namanya selalu hadir dalam catatan harianku. Dia, yang selalu kucintai.

Aku hanya menatapnya menikmati selembar koran yang baru saja dia rebut dari tanganku. Selalu begitu, tapi aku tak pernah bisa marah padanya. Aku hanya diam dan tersenyum melihat mulutnya penuh dengan roti bakar. Selalu begitu, makan sesuka hatinya, tak peduli bagaimana berantakannya lipstik yang baru saja ia poleskan dengan hati-hati ke bibirnya. Dan, aku hanya bisa tersenyum, tak lebih.

Berkali-kali kucoba menata hati, mencoba berdamai dengan perasaan ini, namun selalu gagal. Dia selalu merusak segala sesuatu yang sudah tertata dengan baik di dalam sini. Hatiku. Aku selalu mencoba merumuskan pola kalimat yang akan kututurkan padanya, namun lagi-lagi aku gagal. Kata-katanya selalu berhasil mengunci mulutku sebelum sempat kuluncurkan huruf pertama dari serangkaian kata-kata yang telah kususun dengan rapi.

Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk mengutarakan isi hatiku padanya, tapi aku yakin suatu saat pasti ada sedikit celah. Aku yakin pasti akan menemukan kunci untuk membuka mulutku saat kata-katanya mulai menguncinya.

"Parjo, mobil sudah dipanaskan belum?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tanpa perlu memutar lehernya ke arahku.

"Sudah, Non. Mau berangkat sekarang?" Lagi-lagi aku dipukul mundur. Ah, sudahlah, mungkin lain kali.

Gambar: dari sini

*yang ini gagal lagi*
readmore...

Rabu, 06 Februari 2013

-Dalam Kereta-



Aku menemukannya pada sebuah bangku dalam kereta ekonomi, saat matahari mulai menelan rembulan. Kemarin. Rokok, kacamata, dan bau harum melati. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Aku memandangnya dari bangku tepat di depannya. Sebuah buku dan earphone yang menempel di telinga membuatnya tak mengacuhkan hadirku. Mataku tak lepas dari setiap geraknya. Makhluk ciptaan Tuhan yang kini duduk di hadapanku memang benar-benar mengagumkan.

Mulutku terkunci. Hanya mataku yang bergerak ke sana kemari mengikuti setiap gerak jemarinya membolak-balik halaman buku yang ia baca. Jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Entah, kupikir aku harus mampir ke dokter sepulang kerja nanti.

Lima belas menit. Kulihat rokoknya sudah mulai habis. Ia mulai terlihat mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya. Rokok lagi, mungkin.

"Rokok, Mbak." Kuberanikan diri menawarkan setelah agak lama kulihat dia tak menemukan sesuatu dari dalam tasnya.

"Oh, iya. Terima kasih. Merokok juga?" Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Tangannya tak sungkan meraih rokok yang kusodorkan.

"Tak ada salahnya kan wanita merokok?" Kataku sambil memantik korek api, untuknya.

"Setuju." Dia tersenyum. Manis sekali.

Kereta masih melaju saat kusadari dia benar-benar telah mencuri hatiku di kali kedua pertemuan kami. Di dalam kereta.
readmore...

Kamis, 24 Januari 2013

-Menunggu-

 
Aku menunggu di depan pintu, sejak tadi pagi jam tujuh. Menunggu suamiku, yang semalam tak tidur di sampingku. Hingga sekarang jam dua belas lebih sepuluh, suamiku tak kunjung pulang ke rumahku.

Aku menunggu hingga jemu. Kepulangan suamiku yang tak tentu. Meski begitu aku tetap menunggu. Hingga salju turun di Jakarta sekalipun, tak akan aku beranjak dari depan pintu. Kutunggu hingga suamiku datang padaku.

Pukul tujuh belas tiga puluh. Kulihat mobil parkir di depan pintu. Itu suamiku yang berbaju biru. Baju yang kubelikan saat lebaran tahun lalu. Dia tersenyum padaku.

"Aku pulang mengambil baju, ada kerjaan di luar kota seminggu," katanya sambil mencium keningku.

Lagi-lagi suamiku pergi dengan sekoper baju. Membawa mobil hadiah pernikahan dari orang tuaku. Hatiku kelu. Tapi, setidaknya aku tahu. Di balik kemudi mobil itu, ada sesuatu. Ternyata suamiku punya binatang piaraan baru. Berbau harum dan memakai baju, yang membuat suamiku lupa waktu. 


Gambar: dari sini
readmore...

-Gila-



Hari ini aku melihatmu lagi. Gaun merah hati dan kalung mutiara. Mengenakan itu, seperti melihat putri-putri di cerita dongeng. Aku, selalu memujamu dalam diam. Apapun tentangmu selalu terekam jelas di benakku. Kamu, yang selalu tampil sempurna. Sayang, aku hanya bisa memandangmu dari jauh.

Hari ini, kukumpulkan keberanian untuk menyatakan semua perasaanku padamu. Entah ksatria dari mana yang menyusup di ragaku. Tekadku telah mantab.

"Aku menyukainya." Tak sengaja aku mengucapkan itu pada kawan yang duduk di sampingku.

"Apa?" Keningnya berkerut. Jelas sekali dia tak memahami maksudku.

"Aku menyukainya," kuulangi perkataanku sembari menunjuk pada wanita bergaun merah itu.

"Ow, itu? Aku juga menyukainya." Kawanku, ternyata belum mengerti apa yang kumaksud.

"Tidak, aku benar-benar menyukainya. Aku jatuh cinta padanya. Hari ini juga aku akan pergi menemuinya dan mengatakan semua padanya."

"Apa? Kamu gila?"

"Tidak. Aku tidak gila."

"Coba pikir! Dia itu bintang, sedang kamu? Hanya bisa melihatnya dari sini, lewat layar kaca. Lagipula, dia sudah bersuami!" Terdengar ucapan ketus dari temanku.

"Aku tak peduli. Aku akan tetap mengatakannya."

"Dasar gila!" Dia bangkit dari tempatnya dan pergi meninggalkanku.

Aku tidak gila, kawan. Aku hanya sedang jatuh cinta. Itu saja. 


Gambar: dari sini 
readmore...

Minggu, 06 Januari 2013

-Pohon Beringin Di Taman Kota-




"Apa yang kautunggu?" Tanya perempuan itu.

"Kamu," jawabku. Namun, sepertinya perempuan itu sama sekali tak mendengarku. Jarinya sibuk memilin-milin ujung kerudungnya. Matanya berputar-putar seolah-olah sedang mengingat sesuatu.

"Aku tau. Pasti kamu sedang menungguku ya? Ayo ngaku!" Katanya sambil tersenyum. Manis sekali.

"Iya," jawabku lagi.

"Atau jangan-jangan kamu sedang menunggu orang lain?" Bibirnya kini mengerucut, menandakan sebuah kekecewaan.

"Tidak. Aku benar-benar menunggumu." Aku berharap kali ini ia mendengarku.

"Kamu sedang menunggu orang lain. Bukan aku! Jahat!" Perempuan itu tiba-tiba berteriak histeris. Butir-butir air mata mengalir pelan di pipinya. Ingin sekali aku menghapusnya.

"Azizah gila ... Azizah gila ...." Tiba-tiba sekelompok anak kecil datang sambil bertepuk tangan. Lagi-lagi mengolok-olok Azizah. Hampir setiap hari mereka melakukan itu.

"Aku tidak gila! Aku tidak gila!!" Azizah semakin histeris. Aku kasihan padanya.

"Orang gilanya ngamuk! Lariiii ...." Anak-anak itu berlari sambil terus mengolok-olok. Azizah semakin histeris.

"Kamu kenapa diam saja? Kenapa tidak membantuku?" Azizah menatap benci padaku. Matanya berkilat-kilat seperti ingin menerkamku.

"Kamu benar-benar jahat!" Azizah berlari meninggalkanku.

Aku hanya bisa terpaku melihat kepergiannya. Mana mungkin aku bisa menahan kepergiannya, meski aku berteriak sekeras-kerasnya dan memintanya agar tak pergi. Itu tak mungkin. Azizah tak akan mungkin mendengarku. Sebatang pohon beringin di taman kota. Hanya orang gila yang mau menyapa sebatang pohon beringin di taman kota, kata orang. Tapi, aku sama sekali tak menganggap Azizah gila. Aku menyukainya. Aku menyukai sapaan ramahnya setiap hari padaku. Aku tertarik dengan cerita-cerita yang ia bawa setiap hari untukku. Sebatang pohon beringin di taman kota. 

Gambar: dari sini
readmore...

Jumat, 04 Januari 2013

-Hujan-




Apa aku pernah menceritakan padamu tentang hujan? Hujan yang selalu kutunggu kehadirannya. Meski tubuhku terlalu lemah untuk bersentuhan dengannya, namun aku tetap menyukai hujan. Karena aku tahu, hujan dapat membawa pelangi. Pelangi indah yang memberikan warna pada langit pucat. Karena hujanlah, aku mempunyai harapan untuk menemukan pelangi itu.

Bagiku, kamulah hujan.


Gambar: dari sini
readmore...

Rabu, 02 Januari 2013

-Kekasihku, Aku Mencintainya-




Malam ini, di bawah naungan bintang-bintang, kupandangi cincin yang melingkar di jari tanganku. Kilaunya tak kalah dengan kelip bintang di sana. Kuingat waktu pertama kali kekasihku memasang cincin di jari manisku, beberapa bulan yang lalu. Indahnya masa itu. Kugenggam erat jemari kekasihku yang kini duduk di hadapanku. Hanya lewat tatapan matanya aku mengerti rasa hatinya. Luka. 

"Maafkan aku." Nadaku tenggelam oleh isakku sendiri.

"Kurang apa aku?" Matanya menatapku tajam, seakan ingin menelanku hidup-hidup.

"Tak ada. Aku mencintaimu." Tak sedikit pun aku berani menatap langsung padanya.

"Bukankah kau mencintainya juga? Lalu, apa yang kauinginkan?"

"Izinkan aku bersamanya. Sebentar saja." Bibirku gemetar. Keberanian itu muncul begitu saja. Nekat, memang.

"Hah!" Hanya itu. Kemudian kekasihku berlalu dari hadapanku. Hilang ditelan gelap malam. "Ini tak akan lama, sayang," bisikku dalam hati. 


Gambar: dari sini
 
readmore...

Selasa, 01 Januari 2013

-Bayangan-

 
Aku selalu melihatmu sejenak memejamkan mata di antara nyala lilin-lilin yang berdiri tegak di atas kue cokelat berbentuk bulat, sebelum akhirnya kautiup, seorang diri. Apa yang kauharapkan dari itu semua? Apa kaupikir setelah kau membuka mata, akan datang peri-peri kecil yang menaburimu hadiah? Jangan bermimpi! Lihatlah, sudah berapa kali kaulakukan itu. Seumur hidupmu. Apa yang kaudapat? Tak ada. Hanya ada aku dan kamu, dalam keremangan. Sesak oleh gempita orang-orang di luar yang meneriakkan "happy new year" sembari meniup terompet-terompet sial itu. Sedangkan kita? Kita? Oh, kenapa aku harus menjadi milikmu, hingga ada kata kita di antara kau dan aku? Harusnya kau sendiri saja yang merasakan. Ah, andai saja aku bukan milikmu ....

Gambar: dari sini
readmore...

Senin, 17 Desember 2012

-Bidadari dalam Cermin-




Malam ini rembulan begitu mempesona. Bumi bersorak gembira menyambutnya. Begitupun aku, yang diam-diam menyimpan kebahagiaan yang membuncah dalam dada. Aku melihat rembulan yang seakan tersenyum padaku, mengatakan bahwa ia merestuiku. Aku mengangguk perlahan padanya, lalu buru-buru masuk ke kamar dan menemui kekasihku.

Oh, dia sudah duduk manis di sana. Malam ini dia terlihat sangat cantik. Wajahnya seterang rembulan yang saat ini bersinar dengan indahnya. Kedua matanya mampu menenggelamkanku dalam perasaan yang begitu dalam. Sedang bibirnya semerah mawar, hingga aku dapat mencium wanginya kala kudekati. Kutatap lekat wajahnya, ada gelombang dalam dada yang mampu menggoncangkan seluruh jiwaku. Aku telah terperangkap dalam dunia yang entah bernama apa. Hanya ada kami berdua, aku dan dia.

"Kau begitu cantik malam ini," bisikku perlahan. Sengaja kukecilkan suaraku agar orang rumah tak mendengar. Aku tak mau kalau sampai mereka tahu aku menyimpan bidadari dalam kamarku.

"Ingin rasanya aku mengajakmu keluar malam ini. Kita melihat bulan yang cantik, juga merasakan semilir angin yang sejuk. Kau pasti senang," bisikku lagi. Namun, dia hanya tersenyum memandangiku. Sepertinya dia masih malu-malu, walau ini sudah malam kesekian aku menemaninya.

Aku semakin terpesona ketika wajahnya mulai memerah. Inilah kecantikan luar biasa yang pernah kulihat. Ini juga yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya, beberapa hari yang lalu. Selama ini aku tak percaya dengan yang namanya bidadari. Namun, saat menemukannya, barulah aku  percaya. Saat itu aku mengira dia adalah Nawang Wulan yang kehilangan selendangnya sehingga tak bisa lagi kembali ke khayangan. Aku berharap menjadi Jaka Tarub yang menemukan selendang dan memperistrinya, tapi aku tak ingin jika kelak ia menemukan selendangnya dia akan meninggalkanku dan kembali ke asalnya. Aku tak ingin itu semua terjadi. Jadi, jika benar dia Nawang Wulan, akan kucari selendangnya sampai ketemu, lalu kubakar selendang itu hingga ia tak bisa lagi kembali. Ah, pikiran jahat itu muncul begitu saja, mungkin aku yang terlalu mencintainya hingga tak ingin dia terlepas begitu saja.

Aku, lelaki yang tak pernah mengenal cinta tiba-tiba saja tunduk pada perempuan yang kini berada tepat di hadapanku dengan senyumnya yang menawan. Entah racun apa yang sudah dia masukkan ke dalam makananku sehingga aku begitu tergila-gila padanya. Atau jangan-jangan dia memakai semacam pelet yang mampu membuat orang yang memandangnya menjadi jatuh cinta. Aku sering melihat hal seperti itu di film-film. Apapun yang dia lakukan, aku tak peduli. Aku tetap mencintainya.

"Sayang, malam ini sangat romantis. Aku tak ingin malam ini segera berakhir. Aku masih ingin memandangmu. Apa kau tak keberatan menemaniku sampai esok pagi?" Tanyaku penuh harap.

Dia mengangguk. Aku melonjak girang. Meski tanpa sepatah katapun itu cukup membuatku terbang. Aku begitu bahagia malam ini. Rembulan pun mendukung dengan cahayanya yang mampu menembus jendela kamarku. Aku terus memandanginya. Wajahnya begitu teduh dan menyejukkan. Benar-benar layak jika kupanggil dia bidadari. Ya, bidadari yang sengaja langit turunkan untuk menemaniku.

“Sepertinya tak hanya malam ini saja. Apa besok kau juga mau menemaniku sampai pagi lagi?” Dia berhenti tersenyum. Raut wajahnya berubah seketika. Matanya menatap sayu padaku.

“Kenapa? Apa kau tak mau menemaniku?” Kecewa tersirat dalam setiap tanyaku.

“Oh, ya mungkin kau lelah menemaniku setiap hari ya? Tak apalah, kapan saja kau datang aku akan menunggumu di sini,” kataku sembari tersenyum, berharap ia juga kembali tersenyum seperti semula. Aku sungguh tak rela kehilangan senyum itu malam ini. Senyum yang mampu meruntuhkan setiap gunung egoku, memadamkan setiap kobaran amarahku.

***

Mataku mengerjap-ngerjap, silau oleh cahaya matahari yang melewati jendela yang semalam lupa kututup.

“Sial, lagi-lagi aku ketiduran,” rutukku. Kutegakkan posisi dudukku.

“Ah, dia sudah pergi. Padahal semalam aku yang menyuruhnya menemaniku sampai pagi.” Aku sedikit kesal.
Aku buru-buru menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Hari ini ada kuliah pagi dan mungkin akan pulang agak larut lagi. Memang hari-hari yang sangat melelahkan. Andai saja tak ada bidadari itu, mungkin aku sudah depresi. Sebelum melangkah keluar kamar kusempatkan melirik tempat bertemu bidadariku semalam. “Apa malam ini kau akan datang lagi?” Batinku. Perlahan kututup pintu kamar, ada sedikit ketidakrelaan meninggalkan kamar.

“Bagaimana kalau siang ini dia datang lagi? Bagaimana kalau dia tak menemukanku di sana?” tanyaku dalam hati. Sedetik kemudian pikiranku tegas membantah, “Ah, tak mungkin. Dia hanya akan datang malam hari.” Aku berjalan santai ke kampus sembari berharap malam segera menjelang, agar aku bisa lekas menemui bidadariku lagi.

***
Senja memerah di ufuk barat. Aku menyiapkan secangkir kopi dan sebatang rokok yang telah mengepul dintara telunjuk dan jari tengah. Aku menunggu rembulan kembali muncul membawa bidadari ke hadapanku malam ini. Rasanya tak sabar ingin membagi cerita sepanjang hari ini padanya. Pasti ia akan tersenyum, bahkan tertawa senang mendengarnya.

Langit mulai gelap. Samar sinar rembulan tampak pucat. Belum juga ada tanda-tanda bidadariku itu datang. Memang aku yang terlalu awal menunggunya, biasanya ia akan datang jika langit telah benar-benar gelap. Lama aku menunggu, satu jam, dua jam, hampir tiga jam bidadariku belum tampak juga. Padahal mataku sudah semakin berat. Akhirnya aku terlelap sebelum sempat kulihat bidadari itu menyapaku.

Pukul dua belas malam, aku terkesiap. Tiba-tiba saja terbangun dari tidurku. Aku mendongakkan kepala, kudapati seulas senyum manis di hadapanku. Langsung kutegakkan posisi dudukku.

“Maaf, aku ketiduran,” kusapa dia dengan malu-malu. Seperti biasa, dia hanya terseyum memandangku. Seperti biasa pula aku cukup senang dengan reaksinya itu.

“Apa kau tadi lama menungguku?” Tanyaku. Aku merasa tak enak membiarkannya menunggu. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya –masih dengan senyum.

“Syukurlah, aku kira kau tak akan datang malam ini ....” Aku senang menemuinya kembali malam ini. Malam ini sungguh indah, kulewati dengan bidadari cantik di hadapanku. Berbagai cerita tentang hari-hariku mengalir begitu saja, hingga tak kusadari mata sayu itu kembali menghiasi wajah sang bidadari.

“Kamu kenapa lagi? Apa ceritaku membosankan?” Tanyaku penuh khawatir. Dia menggeleng perlahan.

“Lalu kenapa raut wajahmu tiba-tiba begitu berubah?” Dia hanya terdiam menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Ada sirat kesedihan yang begitu mendalam terpancar dari matanya, namun bibirnya tetap terkatup rapat. Aku tak bisa memahami dirinya saat ini.

Kami hanya terdiam selama beberapa jam menjelang pagi. Aku terus memandanginya, berharap kali ini mau mengecapkan satu kata padaku. Namun sayang, ia tetap pada dirinya, diam seribu bahasa. Aku putus asa sampai rasa kantuk menyerangku. Tak sadar lagi-lagi aku tertidur di hadapannya.

Pukul tujuh pagi, jiwaku kembali pada tempatnya setelah melalangbuana di alam mimpi. Seperti biasa, tak lagi kudapati bidadari itu di hadapanku. Bibirku tak henti-hentinya memaki diri sendiri sebelum akhirnya kuputuskan untuk bersiap-siap dan berangkat ke kampus.

***
Ini malam kesekian aku menunggunya di kamar, tapi kali ini tanpa sinar rembulan. Cahaya redup lampu kamar tak bisa menggantikan indahnya pancaran rembulan. Dua gelas kopi dan beberapa batang rokok telah kandas, meski waktu belum menunjukkan tengah malam. Aku duduk di tempat biasa, resah menunggu datangnya bidadariku. Entah kenapa firasatku kali ini tak enak, seperti ada sesuatu yang hilang. Entah apa itu.

Malam semakin pekat, kulirik jam weker di meja, tengah malam baru saja berlalu. Ini membuat perasaanku semakin tak enak. Bidadari yang kunanti tak kunjung muncul. Seksama kuperhatikan benda di depanku dan di sanalah tak sengaja kutemukan sesuatu. Bagai tersengat listrik beribu-ribu volt, tubuhku gemetar tak karuan. Segera aku beranjak dari tempat dudukku, berlari sambil berteriak histeris.

“Ibu ... Ibu ....” Aku berlari menuju kamar Ibu. Kugedor-gedor pintu kamarnya. Aku tak peduli meski ini tengah malam sekalipun.

“Ibu ... buka Ibu ....” Aku masih histeris di depan kamar Ibu. Tak lama pintu kamar Ibu tergesa-gesa dibuka. Tersembul wajah kusut Ibu yang masih terkantuk.

“Ada apa kamu tengah malam begini teriak-teriak?”

“Ibu, apa yang Ibu lakukan pada cermin di kamarku?” Aku menggoncang-goncang bahu Ibu.

“Oh, itu. Tadi siang sewaktu membersihkan kamarmu tak sengaja Ibu memecahkannya. Cermin itu hancur berkeping-keping, lalu ibu ganti dengan yang baru,” kata Ibu santai.

Aku langsung terduduk lemas. Syaraf-syarafku seakan lumpuh. Tak kupedulikan lagi air mata yang kini membanjir di pipi. Sekarang, tak akan pernah lagi kutemukan bidadari itu di kamarku. Ibu baru saja membunuh bidadariku.  

========== THE END ==========

Gambar: dari sini
 
readmore...

Rabu, 12 Desember 2012

-Mencintai Kekasihmu-




Ini adalah sebuah cerita. Cerita tentang kekasih orang.

Hei cantik, aku mencintai kekasihmu. Sudikah kau membaginya denganku? Diam-diam di belakangmu aku bercanda mesra dengannya. Di balik matamu, kami saling merindukan. Menghabiskan malam-malam sepi bersama ketika kau terlelap.

Hei cantik, kekasihmu juga mencintaiku. Izinkan aku menempati hatinya bersamamu. Tak akan kurampas dia dari sisimu. Aku hanya ingin bersamanya. Itu cukup bagiku.


Hei cantik, jangan bermuram durja. Kekasihmu masih mencintaimu. Namun, dia juga tak mau kehilanganku. Lapangkanlah hatimu, terimalah aku. Meski dahulu kau pernah kusakiti, itu tak usahlah kau ungkit. Mari buka lembar baru. Hatiku sudah berubah, tak seperti dahulu. Sekarang, yang kucintai adalah kekasihmu, bukan lagi dirimu.


Gambar: dari sini
readmore...

Minggu, 09 Desember 2012

-Nasi Pecel-


 
Sepiring nasi pecel telah tersaji di meja makan. Lagi-lagi kau hanya tersenyum kecut memandanginya. Aku tahu apa yang kaupikirkan. Memang aku tak pandai memasak.
Katamu aku hanya bisa merayu dan berdandan.

Kau tak percaya nasi pecel itu buatanku. Tapi, aku jujur. Nasi pecel itu memang buatanku. Seminggu kemarin aku belajar dari ibu. Beliau memberi resep turun-temurun. Sampai akhirnya sekarang aku bisa menghidangkannya untukmu. Sayangnya kau belum percaya nasi pecel itu buatanku.

Kau memang lebih suka masakan Fatimah. Janda cantik pemilik warung depan rumah. Daripada nasi pecel itu mubadzir dan tak barokah. Lebih baik kuberikan pada tetangga sebelah. Hitung-hitung buat sedekah.

Tak lama, kau menanyakan nasi pecel itu. Karena kau lapar dan Fatimah tak berjualan hari itu. Katamu, daripada kelaparan, lebih baik makan nasi pecel yang kuhidangkan untukmu. Meski kau belum percaya itu buatanku.

Maaf sayang, aku terlanjur tak menyisakan untukmu. Tetangga sebelah lebih menghargai jerih payahku, daripada kau, suamiku. Jadi, jangan tanyakan lagi tentang nasi pecel itu. Karena mulai sekarang aku tak akan lagi menghidangkannya untukmu. 


gambar: sumber 
readmore...

Rabu, 05 Desember 2012

-Kopi-




Kopi yang kuseduh belum kausentuh sama sekali. Padahal sudah sedari maghrib tadi. Kau terus termangu memandanginya. Ya, hanya kaupandangi, tanpa kausentuh sama sekali.

Kopi yang kuseduh sudah terlalu dingin. Tapi, tak kunjung kaujamah. Asapnya tak lagi mengepul, aromanya pun sudah tak berbekas.

Kopi yang kuseduh telah basi sebelum kauhirup. Apa karena warnanya kurang memikat seperti kopi-kopi yang sering kaubeli di luar sana? Atau kau curiga aku menaruh racun di dalamnya?


"Apa itu benar kopi yang kauseduhkan untukku?"

"Pertanyaan macam apa itu? Hanya kau suamiku, lalu untuk siapa lagi kuseduhkan kopi itu?"

"Lalu, kenapa harumnya berbeda?"

Aku terdiam. Kopi yang kuseduh salah takar. Satu sendok kopi, satu sendok gula dan satu sendok krim. Itu harusnya takaran untuk kekasihku. Bukan untuk suamiku. Ceroboh. 


Gambar: dari sini
readmore...

Senin, 22 Oktober 2012

Sebuah Kejutan





Roma DP

Pagi ini terasa beda. Suasana dingin masih menusuk tulang meski mentari mulai melepas jingganya. Aku masih meringkuk nyaman dalam selimut tebal. Mengacuhkan jam weker yang sedari tadi berteriak-teriak hingga memekakkan telinga. Pun tak peduli dengan deringan suara handphone yang sedari tadi berdering, entah telepon dari siapa. “ah, paling juga Lusi,” pikirku. Lusi –temanku- memang terbiasa membangunkanku pagi-pagi agar aku tak telat ke kampus.
     Beberapa menit kemudian, entah kenapa jam weker yang biasanya pantang menyerah sebelum kubanting itu tiba-tiba berhenti berteriak-teriak. Aku menyunggingkan senyum kemenangan. Jadi aku tak perlu repot-repot membantingnya. Tak lama kemudian handphone yang riang menyanyikan lagu Evanescence itu turut terdiam. “Hah, tumben Lusi segampang itu nyerah?” Senyum penuh kemenanganku pun kembali tersungging dengan indahnya. Tapi, aku penasaran juga, kulirik sekilas handphone yang masih menyala itu. Samar terbaca “10 missed call”. Aneh, biasanya Lusi hanya akan berhenti menelepon setelah 30 kali tak kuangkat. Dengan malas kutekan tombol yes pada handphone-ku. Ada satu nama dan itu membuatku terhenyak.
  “Hah? Andreeeeeeeee ....” Aku kelabakan tak karuan. Buru-buru kutelepon balik. Beberapa detik kemudian terdengar suara berat laki-laki dari seberang sana.
        “Hallo.”
    “Waaaaa ... Maaf, tadi kukira Lusi, jadi tak kuangkat.” Aku berusaha menjelaskan agar Andre –kekasihku- tak salah paham.
       “Iya, sayang, nggak apa-apa kok. Aku tahu kamu pasti belum bangun.” Suara lembut Andre menenangkanku.
     “Ah, kamu. Aku kan jadi malu. Eh, ada apa? Tumben, pagi-pagi telepon?” Tanyaku.
       “Nggak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja,” katanya penuh rayu.
      “Hahaha ... bisa aja. Kamu kapan pulang? Aku juga kangen nih,” tanyaku manja. Sudah dua tahun ini Andre menempuh pendidikan di Australia. Biasanya selalu pulang kalau libur tiba, tapi karena kesibukan menjelang skrispsi dan kerja paruh waktunya yang tak bisa ditinggal, akhirnya aku yang dibiarkan sendiri di sini.
        “Seminggu lagi aku pulang,” jawabnya singkat, tapi langsung membuatku meloncat kegirangan.
          “Hah? Beneran?” Tanyaku tak percaya.
      “Iya, ada beberapa dokumen yang perlu kuurus, makanya aku pulang. Lagian aku juga kangen sama kamu, pengen cepet-cepet ketemu. Ya udah, aku mau berangkat ke kampus dulu. Nanti siang aku telepon lagi ya.”
        “Iya, hati-hati ya.” Tut ... tut ... tut .... pertanda telepon yang diseberang telah ditutup.
         Seminggu lagi ulang tahunku, jangan-jangan Andre sengaja pulang untuk memberi kejutan padaku? Wajahku pun langsung memerah tomat, membayangkan Andre datang dengan kejutan yang kuharapkan. Pasti akan sangat menyenangkan ditemani sang kekasih di hari paling istimewa. Aku jadi tak sabar menantikan kedatangan Andre.

***
      “Andre mau balik,” kataku tiba-tiba pada Lusi yang sedang asyik minum es jeruk di kantin kampus.
      “Uhuk ... uhuk ....” Entah kenapa Lusi tiba-tiba kaget begitu, sampai tersedak.
       “Kenapa? Gak usah segitunya kali. Emang aneh kalau Andre balik?” Tanyaku kesal.
      “Bu ... bukan begitu, tapi kenapa tiba-tiba aja balik? Bukannya ini belum liburan ya?”
       “Gak tau juga sih, katanya ada dokumen penting yang harus dia urus,” jawabku sambil senyum-senyum.
       “Ya udah selamet deh yang pacarnya mau pulang, tapi jangan cuekin aku ya nanti,” canda Lusi.
       “Iya, Lusi sayang, mana mungkin aku tega nyuekin kamu?” Godaku. Aku tersenyum, begitupun dia, sahabat terbaikku.

***
      Besok ulang tahunku dan besok Andre baru akan pulang, katanya. Dengan perasaan berbunga-bunga aku berencana mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk orang-orang yang aku sayangi. Langkah kakiku pun membawa sampai ke mall dekat rumah. Sengaja aku tak mengajak Lusi karena aku ingin memberi kejutan padanya. Biasanya aku tak pernah mengadakan pesta ulang tahun. Tapi, karena bertepatan dengan moment istimewa, maka aku ingin membaginya pula dengan orang-orang terdekat.
       Aku tersenyum riang sambil membayangkan kejutan apa yang akan diberikan Andre. Membayangkan bagaiamana terkejutnya Lusi dengan pesta kecil-kecilan yang akan kubuat. Sungguh tak sabar rasanya menantikan esok hari. Besok mungkin aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Di hari istimewaku akan dikelilingi orang-orang yang istimewa pula.
   Aku mulai memasuki bangunan megah tempat orang menghabiskan uang. Biasanya aku tak pernah pergi ke mall sendirian, selalu ditemani mama atau Lusi. Kaki-kaki kecilku langsung menuju food court gara-gara teriakan tenggorokanku yang dari tadi tercekik saking panasnya cuaca hari ini.
Langsung kupesan lemon tea yang menggoda. Sembari menunggu pesanan, kuedarkan pandangan ke sekitar food court. Ternyata hanya aku yang datang sendiri. Semuanya datang dengan keluarga, teman-teman atau pacar mereka. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, sebelum akhirnya aku melihat sesuatu yang ganjil di situ. Mataku tertuju pada salah satu meja yang berada di pojokan. Seketika langsung terbelalak.
Harapan-harapan indah yang tadi kususun rapi di hari istimewaku, kini hancur berkeping-keping. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, lututku bergetar dan kakiku serasa lemas. Ini benar-benar sebuah kejutan. Andre dan Lusi. Duduk berdua sambil berpegang tangan mesra. Bagus, mereka telah berhasil membuat kejutan yang benar-benar mengejutkan menjelang hari istimewaku.
Butiran air mata mulai deras mengalir di pipi. Kubalikkan badan dan berlari menjauh. Tak kuasa melihat pemandangan itu di depan kedua mataku. Sungguh, ini benar-benar kejutan. Selamanya, tak akan pernah kulupakan. Kejutan menjelang hari istimewaku yang mereka berdua berikan. 

 Gambar: dari sini
 
readmore...
Jasa Desain Cover