Social Icons

Selasa, 22 Januari 2013

Dewangga







Judul : Dewangga
Penulis : Nektarity (Anggota Komunitas Penulis RUMPUN NEKTAR)
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-7915-04-6
Tebal : vi + 167 hlm. (bookpaper)
Ukuran : 13x19 cm
Harga : Rp. 44.000,- (belum termasuk ongkir)

Untuk berjuang dalam hidup, tak cukup hanya dengan mengarahkan pandangan seseorang, kesabaran serta jerih payahnya. Penting juga untuk mulai memanggil dan menemukan pandangan-pandangan lain, yang pada waktunya nanti, akan mulai memanggil dan menemukan pandangan-pandangan yang lain lagi. Karena dengan melihat pandangan orang lain, banyak pandangan akan dilahirkan. Lalu dunia melihat bahwa hal itu lebih baik sebab ada cukup ruang bagi pandangan setiap orang. Dan ia yang meski berlainan pandangan, bisa melihat berbagai pandangan dan pandangannya sendiri menjalani sejarah yang masih terlewatkan.

Buku ini berisi 15 Cerpen yang mencoba menemukan pandangan-pandangan lain sebagai bentuk wadah pandangan yang berlainan. Dikumpulkan dari hasil Kompetisi Cerpen Rumpun Nektar 2012 yang diikuti oleh 181 naskah. Dan cerpen di dalam buku ini merupakan cerpen terpilih dari seluruh naskah karena terbentuk dari penyaringan yang sangat ketat, dengan peserta-peserta se-indonesia (bahkan ada yang di luar negeri).

Tulisan-tulisan yang istimewa ini patutlah ditempatkan pada tempat yang istimewa. Bagi anda yang biasa membeli buku inide,  jangan anda membayangkan buku ini adalah buku indie seperti yang biasa anda beli dengan kualitas yang jelek. Buku ini dibuat istimewa, mulai dari bahan sampai desain sampul dan desain didalamnya. Sengaja dibuat istimewa untuk kaulitas karya yang istimewa. Buktikan sendiri setelah anda mendapatkannya.Bagi anda pecinta sastra lama, buku ini sangat cocok bagi anda yang merindukan keindahan sastra lama. Selain tulisan-tulisan yang istimewa, banyak taburan kata yang membuat kita mengenang keindahan sastra lama.Sijil dan Taklimat menjadi kata ganti untuk daftar isi dan kata pengantar didalamnya.




Berikut beberapa komentar pembaca:
“Membaca buku ini terasa seperti mendaki gunung: ingin cepat sampai tapi tak ingin selesai, setiap bagian penuh kejutan menakjubkan! Jarang-jarang cerpen hasil lomba yang bahasanya begitu matang.”
(Eva Purwaningtyas, Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra)

“Ketika membaca “Dewangga”, saya seperti sedang menikmati sajian manis nan lezat. Mmm.. seperti apa ya? Mungkin seperti Rainbow Cake nan kaya warna dan kaya rasa. Satu demi satu lapisannya mempunyai warna dan cita rasa yang berbeda. Pelan namun pasti terlahap tandas tak tersisa.
Maklumlah, antara satu cerita dengan cerita lainnya ditulis oleh penulis yang berbeda-beda dengan gaya yang berbeda pula. Coba bayangkan saja, ketika sebelumnya saya membaca sebuah cerita kemudian tertawa tak teridentifikasi tiba-tiba di cerita selanjutnya saya sempat tertegun sejenak kemudian terharu. Sensasinya seperti satu mobil dengan sahabat yang pintar bercerita sehingga saya tidak ingin buru-buru sampai di tempat tujuan.
Ada 2 jenis tulisan yang menarik. Jenis pertama adalah tulisan yang membuat pembacanya bilang, “ Ini persis banget dengan ide yang ada dipikiranku selama ini.” Sedang jenis kedua adalah tulisan yang membuat pembacanya berpikir, “Kok aku nggak pernah terpikir kayak begini sih sebelumnya?”. Dan kedua jenis tulisan ini ada di dalam “Dewangga” ini.
Saya percaya, sebuah buku yang bermutu ditulis oleh penulis yang bermutu pula. Pun Dewangga terbentuk dari sebuah proses lomba yang dipilih terbaik dari yang terbaik. Seperti pemilihan idola, dan tulisan-tulisan ini merupakan sebuah final dari ajang pencarian cerita terbaik yang akan dipilih pembaca. Penulis-penulis dalam buku ini adalah orang-orang yang mampu menuangkan idenya ke dalam tulisan secara segar, sexy, cool dan macho. Maaf kalau barusan saya mendeskripsikan Robert Pattinson, entah kenapa tiba-tiba saya ingat dia. Anyway, akhirnya selamat membaca dan selamat menikmati.” (Dyah “Itik Bali” Ayu, Penulis buku “Amis Tapi Nyata dan Blogger Pemenang ‘Blog Your Book’)

Semoga buku kumpulan cerpen ini tidak hanya menjadi bacaan pembunuh waktu saja, namun mampu memberikan pandangan-pandangan baru dan inspirasi yang positif untuk kehidupan pembaca.





[CARA PEMESANAN]

Ketik :
 #Dewangga#
Nama penerima
Alamat lengkap
Kodepos
Jumlah
No. HP

Kirim SMS / WhatsApp ke +6283879804181 atau inbox DeKa Publisher atau invite pin BB 31577AE8


Supported by:




Grup FB: Rumpun Nektar




readmore...

Senin, 21 Januari 2013

Midnight Stories






Penulis: Redaksi mediakita
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: vi + 232 hlm
Penerbit: mediakita
ISBN: 979-794-381-X
Harga: Rp33.000,-



Jantung Dini mulai berdetak lebih cepat, darahnya mulai mengalir dengan cepat membuat suhu tubuh Dini meningkat. Keringatnya bercucuran lebih banyak. Saat dalam ketakutan dan kebingungan itu, tiba-tiba Dini merasa ada sesuatu yang dingin mencengkeram tangannya. Ia seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Bola matanya terus saja mengarah ke bawah, ia tahu ada sesuatu di lantai kamarnya.
...........................
Buku ini berisi pengalaman nyata yang terjadi oleh penulis,  berdasarkan pengalaman teman, atau juga cerita yang turun-temurun.
Ada 17 cerita dan pengalaman mengerikan dari 17 orang penulis yang memiliki latar berbeda.
Bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk mempermainkan, hanya saja agar tersadar dan selalu waspada bahwa ‘mereka’ ada di sekitar kita. Mungkin saat ini ‘mereka’ berada tepat di belakangmu... mengamatimu... menunggumu...

Pemesanan: Mediakita


readmore...

Mesin Waktu







Penulis : Restra Rasia Community
Editor : Wahyu Widyaningrum
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : Yulianto Wibowo
ISBN : 978-927-1176-85-3


Cetakan Pertama, Desember 2012

Harga : Rp. 33.000
 
MESIN WAKTU

"Kadang kita tidak tahu, seberapa keras para ilmuwan, proffesor, dan sebagainya. Berusaha untuk membuat mesin waktu. Karna kadang juga pemikiran absurd selalu datang untuk berkata, bahwa dengan kehilangan sesuatu akan tercipta sebuah mesin waktu. Ketika kita harus kehilangan gelas karna pecah. Ketika kita harus kehilangan tuhan karna meratasnya nurani, atau ketika kita harus kehilangan segalanya karna keadaan. Karna memang kehilangan itu seperti membawa kita ke masa depan. Supaya kita akhirnya hanya bisa menyesal, sebelum akhirnya lalu kembali memuntahkan waktu untuk kembali ke masa lalu. Supaya memikirkan apa yang sebelumnya ada. Menjaga dan menggenggam erat-erat supaya tidak hilang lagi. Sebuah hikmah. Sebuah penyesalan.
Percayakah sebuah hikmah? Percayakah sebuah penyesalan? Coba tengoklah buku ini."
Mesin Waktu
--Cirebon : Goresan Pena Publishing, 2012
vi + 124 hlm. ; 13 x 19 cm

Copyright © 2012 by Restra Rasia Community
 
Pemesanan: 085 221 422 416
readmore...

Selasa, 15 Januari 2013

SEMINAR WIRAUSAHA


Don't Miss It!!
Daripada bengong hari Minggu, mending cari tambahan ilmu. Untung-untung bisa bawa pulang hadiahnya ^_^



Info lanjut bisa hubungi CP di atas atau inbox FB: Romz Weepy
readmore...

Minggu, 06 Januari 2013

-Pohon Beringin Di Taman Kota-




"Apa yang kautunggu?" Tanya perempuan itu.

"Kamu," jawabku. Namun, sepertinya perempuan itu sama sekali tak mendengarku. Jarinya sibuk memilin-milin ujung kerudungnya. Matanya berputar-putar seolah-olah sedang mengingat sesuatu.

"Aku tau. Pasti kamu sedang menungguku ya? Ayo ngaku!" Katanya sambil tersenyum. Manis sekali.

"Iya," jawabku lagi.

"Atau jangan-jangan kamu sedang menunggu orang lain?" Bibirnya kini mengerucut, menandakan sebuah kekecewaan.

"Tidak. Aku benar-benar menunggumu." Aku berharap kali ini ia mendengarku.

"Kamu sedang menunggu orang lain. Bukan aku! Jahat!" Perempuan itu tiba-tiba berteriak histeris. Butir-butir air mata mengalir pelan di pipinya. Ingin sekali aku menghapusnya.

"Azizah gila ... Azizah gila ...." Tiba-tiba sekelompok anak kecil datang sambil bertepuk tangan. Lagi-lagi mengolok-olok Azizah. Hampir setiap hari mereka melakukan itu.

"Aku tidak gila! Aku tidak gila!!" Azizah semakin histeris. Aku kasihan padanya.

"Orang gilanya ngamuk! Lariiii ...." Anak-anak itu berlari sambil terus mengolok-olok. Azizah semakin histeris.

"Kamu kenapa diam saja? Kenapa tidak membantuku?" Azizah menatap benci padaku. Matanya berkilat-kilat seperti ingin menerkamku.

"Kamu benar-benar jahat!" Azizah berlari meninggalkanku.

Aku hanya bisa terpaku melihat kepergiannya. Mana mungkin aku bisa menahan kepergiannya, meski aku berteriak sekeras-kerasnya dan memintanya agar tak pergi. Itu tak mungkin. Azizah tak akan mungkin mendengarku. Sebatang pohon beringin di taman kota. Hanya orang gila yang mau menyapa sebatang pohon beringin di taman kota, kata orang. Tapi, aku sama sekali tak menganggap Azizah gila. Aku menyukainya. Aku menyukai sapaan ramahnya setiap hari padaku. Aku tertarik dengan cerita-cerita yang ia bawa setiap hari untukku. Sebatang pohon beringin di taman kota. 

Gambar: dari sini
readmore...

Jumat, 04 Januari 2013

-Hujan-




Apa aku pernah menceritakan padamu tentang hujan? Hujan yang selalu kutunggu kehadirannya. Meski tubuhku terlalu lemah untuk bersentuhan dengannya, namun aku tetap menyukai hujan. Karena aku tahu, hujan dapat membawa pelangi. Pelangi indah yang memberikan warna pada langit pucat. Karena hujanlah, aku mempunyai harapan untuk menemukan pelangi itu.

Bagiku, kamulah hujan.


Gambar: dari sini
readmore...

Rabu, 02 Januari 2013

-Kekasihku, Aku Mencintainya-




Malam ini, di bawah naungan bintang-bintang, kupandangi cincin yang melingkar di jari tanganku. Kilaunya tak kalah dengan kelip bintang di sana. Kuingat waktu pertama kali kekasihku memasang cincin di jari manisku, beberapa bulan yang lalu. Indahnya masa itu. Kugenggam erat jemari kekasihku yang kini duduk di hadapanku. Hanya lewat tatapan matanya aku mengerti rasa hatinya. Luka. 

"Maafkan aku." Nadaku tenggelam oleh isakku sendiri.

"Kurang apa aku?" Matanya menatapku tajam, seakan ingin menelanku hidup-hidup.

"Tak ada. Aku mencintaimu." Tak sedikit pun aku berani menatap langsung padanya.

"Bukankah kau mencintainya juga? Lalu, apa yang kauinginkan?"

"Izinkan aku bersamanya. Sebentar saja." Bibirku gemetar. Keberanian itu muncul begitu saja. Nekat, memang.

"Hah!" Hanya itu. Kemudian kekasihku berlalu dari hadapanku. Hilang ditelan gelap malam. "Ini tak akan lama, sayang," bisikku dalam hati. 


Gambar: dari sini
 
readmore...

Selasa, 01 Januari 2013

-Bayangan-

 
Aku selalu melihatmu sejenak memejamkan mata di antara nyala lilin-lilin yang berdiri tegak di atas kue cokelat berbentuk bulat, sebelum akhirnya kautiup, seorang diri. Apa yang kauharapkan dari itu semua? Apa kaupikir setelah kau membuka mata, akan datang peri-peri kecil yang menaburimu hadiah? Jangan bermimpi! Lihatlah, sudah berapa kali kaulakukan itu. Seumur hidupmu. Apa yang kaudapat? Tak ada. Hanya ada aku dan kamu, dalam keremangan. Sesak oleh gempita orang-orang di luar yang meneriakkan "happy new year" sembari meniup terompet-terompet sial itu. Sedangkan kita? Kita? Oh, kenapa aku harus menjadi milikmu, hingga ada kata kita di antara kau dan aku? Harusnya kau sendiri saja yang merasakan. Ah, andai saja aku bukan milikmu ....

Gambar: dari sini
readmore...

Senin, 17 Desember 2012

-Bidadari dalam Cermin-




Malam ini rembulan begitu mempesona. Bumi bersorak gembira menyambutnya. Begitupun aku, yang diam-diam menyimpan kebahagiaan yang membuncah dalam dada. Aku melihat rembulan yang seakan tersenyum padaku, mengatakan bahwa ia merestuiku. Aku mengangguk perlahan padanya, lalu buru-buru masuk ke kamar dan menemui kekasihku.

Oh, dia sudah duduk manis di sana. Malam ini dia terlihat sangat cantik. Wajahnya seterang rembulan yang saat ini bersinar dengan indahnya. Kedua matanya mampu menenggelamkanku dalam perasaan yang begitu dalam. Sedang bibirnya semerah mawar, hingga aku dapat mencium wanginya kala kudekati. Kutatap lekat wajahnya, ada gelombang dalam dada yang mampu menggoncangkan seluruh jiwaku. Aku telah terperangkap dalam dunia yang entah bernama apa. Hanya ada kami berdua, aku dan dia.

"Kau begitu cantik malam ini," bisikku perlahan. Sengaja kukecilkan suaraku agar orang rumah tak mendengar. Aku tak mau kalau sampai mereka tahu aku menyimpan bidadari dalam kamarku.

"Ingin rasanya aku mengajakmu keluar malam ini. Kita melihat bulan yang cantik, juga merasakan semilir angin yang sejuk. Kau pasti senang," bisikku lagi. Namun, dia hanya tersenyum memandangiku. Sepertinya dia masih malu-malu, walau ini sudah malam kesekian aku menemaninya.

Aku semakin terpesona ketika wajahnya mulai memerah. Inilah kecantikan luar biasa yang pernah kulihat. Ini juga yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya, beberapa hari yang lalu. Selama ini aku tak percaya dengan yang namanya bidadari. Namun, saat menemukannya, barulah aku  percaya. Saat itu aku mengira dia adalah Nawang Wulan yang kehilangan selendangnya sehingga tak bisa lagi kembali ke khayangan. Aku berharap menjadi Jaka Tarub yang menemukan selendang dan memperistrinya, tapi aku tak ingin jika kelak ia menemukan selendangnya dia akan meninggalkanku dan kembali ke asalnya. Aku tak ingin itu semua terjadi. Jadi, jika benar dia Nawang Wulan, akan kucari selendangnya sampai ketemu, lalu kubakar selendang itu hingga ia tak bisa lagi kembali. Ah, pikiran jahat itu muncul begitu saja, mungkin aku yang terlalu mencintainya hingga tak ingin dia terlepas begitu saja.

Aku, lelaki yang tak pernah mengenal cinta tiba-tiba saja tunduk pada perempuan yang kini berada tepat di hadapanku dengan senyumnya yang menawan. Entah racun apa yang sudah dia masukkan ke dalam makananku sehingga aku begitu tergila-gila padanya. Atau jangan-jangan dia memakai semacam pelet yang mampu membuat orang yang memandangnya menjadi jatuh cinta. Aku sering melihat hal seperti itu di film-film. Apapun yang dia lakukan, aku tak peduli. Aku tetap mencintainya.

"Sayang, malam ini sangat romantis. Aku tak ingin malam ini segera berakhir. Aku masih ingin memandangmu. Apa kau tak keberatan menemaniku sampai esok pagi?" Tanyaku penuh harap.

Dia mengangguk. Aku melonjak girang. Meski tanpa sepatah katapun itu cukup membuatku terbang. Aku begitu bahagia malam ini. Rembulan pun mendukung dengan cahayanya yang mampu menembus jendela kamarku. Aku terus memandanginya. Wajahnya begitu teduh dan menyejukkan. Benar-benar layak jika kupanggil dia bidadari. Ya, bidadari yang sengaja langit turunkan untuk menemaniku.

“Sepertinya tak hanya malam ini saja. Apa besok kau juga mau menemaniku sampai pagi lagi?” Dia berhenti tersenyum. Raut wajahnya berubah seketika. Matanya menatap sayu padaku.

“Kenapa? Apa kau tak mau menemaniku?” Kecewa tersirat dalam setiap tanyaku.

“Oh, ya mungkin kau lelah menemaniku setiap hari ya? Tak apalah, kapan saja kau datang aku akan menunggumu di sini,” kataku sembari tersenyum, berharap ia juga kembali tersenyum seperti semula. Aku sungguh tak rela kehilangan senyum itu malam ini. Senyum yang mampu meruntuhkan setiap gunung egoku, memadamkan setiap kobaran amarahku.

***

Mataku mengerjap-ngerjap, silau oleh cahaya matahari yang melewati jendela yang semalam lupa kututup.

“Sial, lagi-lagi aku ketiduran,” rutukku. Kutegakkan posisi dudukku.

“Ah, dia sudah pergi. Padahal semalam aku yang menyuruhnya menemaniku sampai pagi.” Aku sedikit kesal.
Aku buru-buru menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Hari ini ada kuliah pagi dan mungkin akan pulang agak larut lagi. Memang hari-hari yang sangat melelahkan. Andai saja tak ada bidadari itu, mungkin aku sudah depresi. Sebelum melangkah keluar kamar kusempatkan melirik tempat bertemu bidadariku semalam. “Apa malam ini kau akan datang lagi?” Batinku. Perlahan kututup pintu kamar, ada sedikit ketidakrelaan meninggalkan kamar.

“Bagaimana kalau siang ini dia datang lagi? Bagaimana kalau dia tak menemukanku di sana?” tanyaku dalam hati. Sedetik kemudian pikiranku tegas membantah, “Ah, tak mungkin. Dia hanya akan datang malam hari.” Aku berjalan santai ke kampus sembari berharap malam segera menjelang, agar aku bisa lekas menemui bidadariku lagi.

***
Senja memerah di ufuk barat. Aku menyiapkan secangkir kopi dan sebatang rokok yang telah mengepul dintara telunjuk dan jari tengah. Aku menunggu rembulan kembali muncul membawa bidadari ke hadapanku malam ini. Rasanya tak sabar ingin membagi cerita sepanjang hari ini padanya. Pasti ia akan tersenyum, bahkan tertawa senang mendengarnya.

Langit mulai gelap. Samar sinar rembulan tampak pucat. Belum juga ada tanda-tanda bidadariku itu datang. Memang aku yang terlalu awal menunggunya, biasanya ia akan datang jika langit telah benar-benar gelap. Lama aku menunggu, satu jam, dua jam, hampir tiga jam bidadariku belum tampak juga. Padahal mataku sudah semakin berat. Akhirnya aku terlelap sebelum sempat kulihat bidadari itu menyapaku.

Pukul dua belas malam, aku terkesiap. Tiba-tiba saja terbangun dari tidurku. Aku mendongakkan kepala, kudapati seulas senyum manis di hadapanku. Langsung kutegakkan posisi dudukku.

“Maaf, aku ketiduran,” kusapa dia dengan malu-malu. Seperti biasa, dia hanya terseyum memandangku. Seperti biasa pula aku cukup senang dengan reaksinya itu.

“Apa kau tadi lama menungguku?” Tanyaku. Aku merasa tak enak membiarkannya menunggu. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya –masih dengan senyum.

“Syukurlah, aku kira kau tak akan datang malam ini ....” Aku senang menemuinya kembali malam ini. Malam ini sungguh indah, kulewati dengan bidadari cantik di hadapanku. Berbagai cerita tentang hari-hariku mengalir begitu saja, hingga tak kusadari mata sayu itu kembali menghiasi wajah sang bidadari.

“Kamu kenapa lagi? Apa ceritaku membosankan?” Tanyaku penuh khawatir. Dia menggeleng perlahan.

“Lalu kenapa raut wajahmu tiba-tiba begitu berubah?” Dia hanya terdiam menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Ada sirat kesedihan yang begitu mendalam terpancar dari matanya, namun bibirnya tetap terkatup rapat. Aku tak bisa memahami dirinya saat ini.

Kami hanya terdiam selama beberapa jam menjelang pagi. Aku terus memandanginya, berharap kali ini mau mengecapkan satu kata padaku. Namun sayang, ia tetap pada dirinya, diam seribu bahasa. Aku putus asa sampai rasa kantuk menyerangku. Tak sadar lagi-lagi aku tertidur di hadapannya.

Pukul tujuh pagi, jiwaku kembali pada tempatnya setelah melalangbuana di alam mimpi. Seperti biasa, tak lagi kudapati bidadari itu di hadapanku. Bibirku tak henti-hentinya memaki diri sendiri sebelum akhirnya kuputuskan untuk bersiap-siap dan berangkat ke kampus.

***
Ini malam kesekian aku menunggunya di kamar, tapi kali ini tanpa sinar rembulan. Cahaya redup lampu kamar tak bisa menggantikan indahnya pancaran rembulan. Dua gelas kopi dan beberapa batang rokok telah kandas, meski waktu belum menunjukkan tengah malam. Aku duduk di tempat biasa, resah menunggu datangnya bidadariku. Entah kenapa firasatku kali ini tak enak, seperti ada sesuatu yang hilang. Entah apa itu.

Malam semakin pekat, kulirik jam weker di meja, tengah malam baru saja berlalu. Ini membuat perasaanku semakin tak enak. Bidadari yang kunanti tak kunjung muncul. Seksama kuperhatikan benda di depanku dan di sanalah tak sengaja kutemukan sesuatu. Bagai tersengat listrik beribu-ribu volt, tubuhku gemetar tak karuan. Segera aku beranjak dari tempat dudukku, berlari sambil berteriak histeris.

“Ibu ... Ibu ....” Aku berlari menuju kamar Ibu. Kugedor-gedor pintu kamarnya. Aku tak peduli meski ini tengah malam sekalipun.

“Ibu ... buka Ibu ....” Aku masih histeris di depan kamar Ibu. Tak lama pintu kamar Ibu tergesa-gesa dibuka. Tersembul wajah kusut Ibu yang masih terkantuk.

“Ada apa kamu tengah malam begini teriak-teriak?”

“Ibu, apa yang Ibu lakukan pada cermin di kamarku?” Aku menggoncang-goncang bahu Ibu.

“Oh, itu. Tadi siang sewaktu membersihkan kamarmu tak sengaja Ibu memecahkannya. Cermin itu hancur berkeping-keping, lalu ibu ganti dengan yang baru,” kata Ibu santai.

Aku langsung terduduk lemas. Syaraf-syarafku seakan lumpuh. Tak kupedulikan lagi air mata yang kini membanjir di pipi. Sekarang, tak akan pernah lagi kutemukan bidadari itu di kamarku. Ibu baru saja membunuh bidadariku.  

========== THE END ==========

Gambar: dari sini
 
readmore...

Rabu, 12 Desember 2012

-Mencintai Kekasihmu-




Ini adalah sebuah cerita. Cerita tentang kekasih orang.

Hei cantik, aku mencintai kekasihmu. Sudikah kau membaginya denganku? Diam-diam di belakangmu aku bercanda mesra dengannya. Di balik matamu, kami saling merindukan. Menghabiskan malam-malam sepi bersama ketika kau terlelap.

Hei cantik, kekasihmu juga mencintaiku. Izinkan aku menempati hatinya bersamamu. Tak akan kurampas dia dari sisimu. Aku hanya ingin bersamanya. Itu cukup bagiku.


Hei cantik, jangan bermuram durja. Kekasihmu masih mencintaimu. Namun, dia juga tak mau kehilanganku. Lapangkanlah hatimu, terimalah aku. Meski dahulu kau pernah kusakiti, itu tak usahlah kau ungkit. Mari buka lembar baru. Hatiku sudah berubah, tak seperti dahulu. Sekarang, yang kucintai adalah kekasihmu, bukan lagi dirimu.


Gambar: dari sini
readmore...
Jasa Desain Cover