Social Icons

Selasa, 09 Oktober 2012

-Kamu Di Mana?-





Roma DP

Rinai hujan mulai membasahi jendela kamar. Mataku masih terjaga meski pekat telah menelan seluruh cahaya. Kuhembuskan napas perlahan pada kaca jendela, lalu perlahan kutuliskan nama kita pada uap hangat yang menempel di kaca itu. Terlihat jelas namaku, juga namamu yang sengaja kutaruh gambar hati di tengah-tengahnya. Begitu jelas, namun tak lama tulisan itu memudar. Sama seperti kita.

Aku ingat, saat hujan seperti ini kau selalu meneleponku. Kau selalu menanyakan apa aku  kedinginan. Apa aku baik-baik saja. Dan di tengah derasnya hujan aku akan bilang kalau aku merindukanmu. Saat itulah kau (mungkin) tersenyum dan bilang merindukanku pula. Namun sekarang, itu semua tak ada. Malam ini turun hujan dan kau tak ada kabar. Kupandangi layar handphone yang sedari tadi berkedip, aku berharap salah satu dari sms yang masuk itu adalah darimu. Harapan tinggal harapan. Sampai kapan pun namamu sepertinya tak akan lagi menghiasi layar handphone-ku.

"Kamu di mana?" bisikku pelan diantara rintik hujan yang turun. Saat inilah aku benar-benar merasa kehilanganmu.

"Bolehkah aku mengharapmu kembali?" Aku kembali berbisik, walau kutahu tak mungkin kau dengarkan.

Gambar: dari sini
readmore...

#FF2In1 - 20 September 2012

*Datanglah Padaku*
Roma DP

Bagai tersadar dari tidur panjang. Bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban, juga sebuah siksaan. Aku memujamu setiap waktu, setiap saat. Namun, yang kudapat hanya sebuah palingan muka. Entah itu karena kau benar-benar tak melihatku, atau karena kau enggan menatapku.

Setiap kali kau terjatuh, aku ada di sana untuk mendukungmu, untuk memberimu kekuatan. Apa yang kau minta pasti kuberikan. Namun, kau tak begitu ketika aku terjerembab. Kau pergi entah ke mana, meninggalkanku sendiri. Asal kau tahu, meski kau lakukan itu berkali-kali aku tetap mengharapmu kembali. Aku tetap setiap pada perasaanku. Kau tenang saja, kau bebas memperlakukanku sesukamu. Aku tak pedulikan orang lain berkata apa, yang kupedulikan hanya kau. Silakan, kau bebas datang padaku sesukamu dan pergi sesukamu. Aku akan tetap ada di sini, menunggu datangmu.


*Sempat Memiliki*
Roma DP

“Apa kau masih di sana? Di tempat pertama kali kita bertemu?” Tanyamu.

“Ya, aku tak pernah beranjak sedikitpun,” jujurku.

“Aku merindukanmu,” katamu. Asal kau tahu, di sini aku punya lebih dari sekedar rindu seperti yang kau ucap. Aku masih punya sejuta perasaan untukmu, sama seperti saat pertama bertemu denganmu di sini.

“Kau diam?”   Tanyamu lagi. Kau tak tahu, aku punya ribuan kata yang ingin kuucap padamu. Tapi, kupendam itu semua. Buat apa lagi? Kau sudah bersama yang lain. Kau ingkari sendiri janjimu dan sekarang kau bilang rindu, lalu aku harus berkata apa?

Percuma aku berucap hingga berbusa. Percuma juga kukatakan aku masih mencintaimu, kau tetap tak akan kembali. Aku hanya bisa bersyukur pada Tuhan karena pernah sempat memilikimu walau hanya sekejap.
 
 
readmore...

#FF2In1 - 15 September 2012

*Jejakmu Di Hatiku*
Roma DP

Awan mendung menggelayut tepat di atas kepalaku. Aku yakin sebentar lagi hujan lebat akan turun, mungkin bersamaan dengan deraian air mata yang tak mampu lagi kubendung. Menatap wajahmu membuatku tak ingin melepaskanmu.

“Aku nggak yakin kita bisa bertahan lebih lama lagi,” ucapmu menatap tajam padaku.

“Kenapa? Bukankah selama ini kita mampu bertahan?” Ratapku tak rela.

“Kita berbeda.”

“Bukankah dengan perbedaan itu kita akan saling melengkapi satu sama lain?” Aku masih kokoh dengan pendirianku.

“Tapi terlalu banyak.”

Aku hanya bisa terdiam sambil berusaha keras menahan cairan hangat  yang mulai menggenang di pelupuk mata. Keputusanmu sungguh di luar dugaan. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku pun tahu cintamu selama ini bukan main-main. Tapi, kenapa kau malah menyerah dengan perbedaan. Aku sungguh tak mengerti.

“Mengertilah, restu tak berpihak pada kita. Jaga dirimu baik-baik!” Kata-kata terakhir yang kau ucapkan itu sungguh menusuk hatiku.

Aku hanya bisa menatap diam kepergianmu bersama rintik hujan yang mulai membasahi tanah tempat kita berpijak. Pelan-pelan tubuhmu tenggelam dalam hujan yang turun semakin deras. Tetesan air yang turun mulai menghapus jejak-jejak kakimu, tapi asal kau tahu jejakmu di hatiku tak akan pernah terhapus selamanya. Kau telah menutup pintu hatiku untuk cinta yang lain. Andai waktu bisa terulang kembali, aku akan menjadi apa yang kau mau, tapi itu tak mungkin. Kini, tinggal aku sendiri di tengah derasnya guyuran hujan.


*Kenangan Indah Tentangmu*
Roma DP

Sayup-sayup alunan lagu dari headset yang kupasang di telinga membawaku melayang pada memori masa lampau. Tak terasa senyum tipis menghiasi bibirku. Mataku terus terpejam menikmati suasana malam ini. Ingatanku menerobos gerbang yang lama terkunci. Di dalamnya tersimpan kenangan indah yang tak mungkin bisa terlupa. Apalagi kalau bukan kenangan tentang dia. Tentang dia yang selalu mengisi hari-hariku. Tentang dia yang selalu memberi warna pada setiap detikku.

Setahun lalu, sebelum takdir akhirnya berkata lain. Dia masih duduk di sini, bersamaku menikmati secangkir teh manis ditemani indahnya malam penuh bintang. Bermimpi tentang masa depan. Menghayal tentang indahnya kehidupan yang akan datang. Ah, masa-masa itu sangat manis, semanis teh yang saat ini tersaji di depanku. Menunggu untuk kuhirup wanginya.

 Manusia berencana, Tuhan berkehendak, tak ada yang bisa melawan takdir-Nya. Aku dan dia pun tidak. Satu per satu rajutan indah kami tentang masa depan perlahan-lahan terburai. Meski Tuhan telah menentukan takdir kami, tapi hatiku ternyata tak semudah itu menerima. Bertahun-tahun bersama itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Hanya dia seorang yang mampu membuatku menyerahkan seluruh hatiku, bahkan hingga detik ini. Meski tak kudapati lagi dirinya berada di sampingku, namun hati ini tak pernah berubah, masih seperti setahun yang lalu. Masih sama seperti ketika dia masih menggenggam erat tanganku sembari berucap sayang. Semua masih sama, saat ini dan sampai kapanpun.
 
readmore...

#FF2In1 - 13 September 2012

*Bayangmu*
Roma DP



Angin berdesir menyentuh sisi lain hati. Kembali mengorek kenangan indah yang pernah tertoreh. Kembali membuka luka menganga yang belum sempat terjahit hingga kini. Masih lekat bayangmu di memoriku, meski ragamu kini entah berada di mana. Mungkin bagimu cerita indah kita sudah tak berarti apa-apa, tapi bagiku itu adalah hadiah terindah yang pernah kau berikan padaku. Akan kusimpan selamanya dalam memori hatiku. Kukunci rapat-rapat agar tak seorang pun bisa mengambilnya dariku.

Aku, bahkan masih ingat setiap kata-kata yang meluncur dari bibirmu. Kata-kata yang sempat menjadi penyemangat hidupku. Aku tahu, kau tak akan pernah lagi mengucapkan kata-kata itu lagi untukku, karena kau telah pergi jauh. Mungkin kau sudah membuang segala tentang kita, tentang aku dan kamu.

Asal kau tahu, tak sedetik pun aku mampu menghapus bayangmu yang menari-nari dalam pikiranku. Hingga kini, aku masih merindukan sosokmu yang begitu mempesona. Mengharap kau akan datang menyapaku kembali dengan senyum manismu. Aku, akan terus menunggu untuk kesempatan itu. Walau kutahu, kau tak akan pernah kembali.


*(Bukan) Penantian Sia-Sia*
Roma DP



Orang bilang aku sudah gila karena menanti sebuah kesia-siaan. Namun, bagiku menantimu bukanlah sebuah kesia-siaan. Menantimu adalah hal paling menyenangkan bagiku.

“Kau itu lelaki bodoh!” Seru temanku.

“Kenapa begitu?”

“Ya jelas lah. Kau habiskan waktumu hanya untuk hal yang sia-sia! Memangnya tak ada gadis lain apa?”

“Tak ada. Bagiku dia adalah satu-satunya gadis dalam hidupku. Tak ada yang lain. Kelak dia akan menyadari betapa besar rasa sayangku padanya dan kemudian dia akan kembali padaku,” jawabku tegas.

“Dasar bodoh!” Dia berlalu meninggalkanku.

Lihat saja, apa yang kutunggu ini bukan kesia-siaan. Hatiku tak akan bergeser sedikitpun, agar nanti jika kau kembali, kau bisa menemukan hatiku di tempat terakhir kau meninggalkannya. Agar kau yakin bahwa aku benar-benar tak bisa pergi darimu. Aku tak peduli bagaimana orang menganggapku gila, menganggapku bodoh dan menyia-nyiakan waktu. Aku benar-benar tak peduli, karena satu-satunya yang kupedulikan hanyalah kamu. 

readmore...

#FF2In1 - 11 September 2012

*Jangan Pergi*
 Roma DP

Malam sudah sangat pekat ketika tubuhmu mulai menghilang dari pandanganku. Mataku tak henti-hentinya memandangi arah di mana kau menghilang di telan kegelapan. Meski semilir angin malam begitu menyengat, namun aku tetap berdiri mematung, berharap wajahmu akan muncul tiba-tiba di hadapanku. Yah, walau kutahu itu tak mungkin.

Kabut putih mulai mengaburkan pandangan, tapi bayangmu masih tertangkap jelas oleh mataku. Suaramu masih berdengung di telinga, sejelas saat terakhir kau bisikkan rayuan padaku, beberapa menit lalu. Aku harap kepergianmu hanya sementara, aku harap kekhawatiranku tak menjadi nyata. Tak mungkin aku bisa begitu saja beralih pada hati yang lain. Meski kutahu, di hatimu tak hanya ada aku, tapi aku terlanjur menanamkan cintaku. Semakin hari semakin menancap kuat. Aku yakin, cintaku telah berhenti di kamu. Tak mungkin begitu saja kurela melepasmu.

*Masih Ada Aku*
Roma DP

Secangkir teh yang kubawakan tadi masih belum berkurang. Jangankan meminumnya, sepertinya matamu pun enggan meliriknya. Kedua bola mata itu masih menatap kosong pada hamparan alam khayal di hadapmu. Entah apa yang kau cari. Kau telah tenggelam dalam duniamu sendiri, tanpa menghiraukan aku yang sedari tadi menggenggam erat kedua tanganmu. Berharap butir-butir air mata itu tak lagi membasahi pipimu yang putih bersih.  Namun kau tak menghiraukan, kau telah asyik bercengkerama dengan kesedihanmu.

“Aku ada di sini, kau tak sendiri,” ucapku lirih. Sayang, kau tak pernah mau mendengar.

Linangan air matamu masih saja membanjir. Aku tahu, apa yang menimpamu bukanlah sesuatu yang mudah. Kau tertekan. Tapi, apa kau tahu, aku lebih tertekan melihatmu seperti itu. Jika kau mau, aku rela memberikan kedua kakiku untukmu. Aku rela menggantikanmu.

“Apa yang kau takutkan? Bukankah aku sudah berjanji akan setia padamu, apapun yang terjadi?” Kau masih saja membatu.

“Genggamlah tanganku, kuatkan hatimu. Hidupmu belum berakhir, masih banyak yang bisa kaulakukan walau tanpa kedua kakimu yang dulu. Ingat, aku selalu ada untukmu." Tak terasa, butiran-butiran air hangat pun ikut membasahi pipiku. Kelu.
 

 
readmore...

Jumat, 14 September 2012

Suara 5 Negara - Antologi Puisi


Alhamdulillah "Suara 5 Negara" yang merupakan antologi puisi penyair perwakilan dari lima negara di Asia Tenggara, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, sudah terbit di Tuas Media. Anda bisa mendapatkannya dengan memesan kepada kami melalui nomor telepon 087815594940 atau E-mail: tuasmedia@ymail.com.
readmore...

Senin, 10 September 2012

Secangkir Teh Pahit

Malam ini aku menikmati secangkir teh pahit, ditemani sang rembulan yang tersenyum genit. Sama seperti waktu itu, saat bersamamu. Bedanya, kini kau tak lagi duduk di sampingku, tak ada lagi kata-kata rayuan yang menggetarkan hatiku. Yang ada hanya sebutir mutiara rindu yang tersimpan rapi dalam kotak kehampaan.Kuhirup teh yang mulai dingin, pahit namun wangi. Rasanya masih sama seperti waktu itu, meski kini hanya tinggal secangkir yang ada di hadapku. Sedang yang satunya telah berpindah ke meja yang lain. Mungkin disana cangkir itu telah diisi lagi dengan teh yang berbeda. 

Malam semakin larut, secangkir teh di depanku sudah hampir kandas. Aku menunggu sampai ada yang menuangkannya lagi untukku. Namun, sepertinya suasana mulai sunyi dan tak ada seorang pun yang menghampiriku. Kuputuskan untuk menyudahi ritual minum teh malam ini. Beranjak dari tempatku dan kembali ke geta peraduan.
readmore...

Sepucuk Surat untuk Sahabat

"Kita adalah satu." Itu lah kata-kata yang selalu kuingat. Kata-kata termanis yang pernah kau ucapkan padaku sebagai tanda ikatan persahabatan kita. Kau pernah bilang jika aku sakit maka serasa terkilirlah hatimu. Jika aku senang, maka hatimu laksana taman bunga yang menyerbakkan wangi di setiap aliran darahmu. Bulir air mataku tak dapat kutahan saat itu, begitu terharunya. Selama ini kaulah yang mampu membuatku menorehkan segaris senyum di sela-sela air mata yang membanjir. Nasihatmu selalu setia terngiang dalam telingaku, mengetuk dinding hatiku dan tertanam disana hingga sekarang.

Sahabatku, pernahkah kau denger ungkapan, "sahabat yang baik itu berani menegur sahabatnya tatkalah berbuat salah?" Kau pun pernah berbuat begitu. Ingatkah kau waktu itu? Ketika aku hampir menjahili salah seorang guru yang tak kusukai, dengan lembut kau memegang tanganku dan memohon untuk tak melakukan hal itu. Saat itu aku bangga memiliki sahabat sepertimu, benar-benar bangga.

Sahabatku, kau yang menunjukkan padaku (bukan hanya sekedar mengajari) bagaimana memakai "pakaian" yang benar bagi seorang muslimah. Kau juga yang memberikan contoh bagaimana beretika sebagai seorang wanita sejati. Bahkan kau pernah memarahiku karena amarahku yang sering bergejolak. Aku ingat benar waktu itu, takkan pernah kulupa. Suatu pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku.

Sahabatku, waktu ternyata berjalan begitu cepat. Perpisahan denganmu menjadikanku rapuh, seakan kehilangan sebelah kakiku. Tertatih-tatih aku mengarungi perjalanan panjang sendiri. Di setiap langkah aku merindukan caramu menyayangiku. Di setiap doaku namamu ada disana, bersama orang-orang yang kucintai. Kumintakan pada Tuhan agar Dia selalu menyayangimu, melindungimu, serta menjadikanmu salah satu yang menempati surga-Nya. Kuberharap kau belum menghapus namaku dari memori hatimu, karena aku pun masih menyimpan rapi ukiran namamu di hatiku.

Sahabatku, jika kau lelah akan petualanganmu, kuharap aku akan menjadi persinggahanmu. Tanganku terbuka lebar untuk menyambutmu. Senyum termanis akan kukembangkan demi kepulanganmu. Tak lupa pelukan terhangat akan kuberikan sebagai pelepas lelahmu. Terakhir, doa terindah dariku untukmu yang selalu menghiasi langit di sepertiga malam terakhir.

Thanks for everything that you ever brought to me

Madiun, 19 April 2012
readmore...

Kursi Berkaki Empat

Bujuk-rayu-jerat
Manis di muka, di belakang mengumpat
Panjang lidah guna menjilat
Biar semua tetap merapat
Demi satu kursi berkaki empat
Dipercaya namun khianat
Hanya bermodal pesona memikat
Nurani tersisih oleh nafsu yang meningkat
Mata disilaukan lembaran merah berkilat
Yang tertumpuk di atas kursi berkaki empat
Seharusnya aku memberi hormat
Bukan mencaci apalagi menghujat
Namun sungguh aku tak kuat
Ketika sadar dengan apa yang kulihat
:Curut tertawa di atas kursi berkaki empat

21/04/2012
readmore...

Kado Terakhir untuk El

Pelangiku tersenyumlah
            Izinkan aku sejenak menikmatinya
            Agar esok ketika kau pergi
            Aku takkan menangisimu lagi

          Alunan merdu lagu yang selama ini mampu menggesek dawai-dawai hatiku itu, kini menyibak kembali masa lalu. Masa di mana El menciptakan lagu itu untukku. Lagu yang merupakan hadiah untuk tiga tahun masa kebersamaan kami berdua. Aku ingat betul bagaimana El untuk pertama kalinya menyanyikan lagu itu di depanku. Dengan gitar kesayangannya, ia mulai merampas seluruh perhatianku. Telingaku tak melewatkan satu melodi pun yang meluncur dari gitar miliknya. Aku menyebutnya harmoni yang romantis. Meski kuakui aku ini buta nada, namun dengan sabar El menuntunku memahami nada dalam setiap bait liriknya.

***
      “Fida, apa kau yakin akan bisa terus bersamaku?” tanya El padaku sambil memeluk gitar kesayangannya.
            “El, apa tiga tahun belum cukup untukku membuktikannya padamu?” Mataku beralih pada ruang di balik jendela kaca kamar El. Di sana berjejer koleksi gitar El, mungkin sudah mencapai puluhan. Di sana ada juga satu gitar berwarna putih yang sengaja El taruh di tempat paling tinggi. Katanya supaya orang-orang bisa tahu kalau itu adalah gitar terbaik miliknya. Padahal itu gitar murahan yang kubeli dari teman kakakku beberapa waktu lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Ah, El memang pandai menyenangkan hatiku.
            Mataku beralih lagi pada El, memandangnya lekat. Tak terasa lelehan air hangat merembes di pipiku, terus turun sampai menetes di baju putihku.  Aku menahan isakku agar tak terdengar oleh El. Namun percuma, El selalu tahu.
            “Kenapa menangis?” tanyanya lagi. Tatapan matanya kosong ke arahku.
            “Siapa yang menangis?”
            “Kamu tak bisa bohong dariku!” desaknya. “Apa kau menyesal?” lanjutnya.
            “Tidak. Bukan itu,”
         Aku beranjak dari tempat dudukku. Mendekati jendela yang menghadap tepat pada sungai di belakang rumah El. Sungai itu terlihat tenang, namun tak bisa menenangkan hatiku.
          “Aku sama sekali tak menyesal. Bahkan aku bahagia bisa mengenalmu. Kau adalah satu-satunya lelaki yang bisa mengetuk pintu hatiku.” Air mataku semakin deras meluncur di pipi.
          “Kau tahu aku tak sempurna, tapi kenapa kau masih tetap bertahan?” Matanya masih menatap kosong pada tempatku duduk tadi.
           “Manusia itu tak ada yang sempurna, aku pun juga. Tapi, dirimu adalah yang terbaik bagiku.” Mataku beralih lagi pada sosok El yang masih memeluk gitarnya. Dia tampak begitu sempurna di mataku. Orang lain pun pasti akan bilang El adalah orang yang sempurna kalau belum tahu bahwa sebenarnya ada yang “kurang” dalam dirinya. Orang takkan menyangka kalau pencipta lagu terkenal yang sering mereka dengarkan di radio itu adalah seorang tunanetra. Ah, aku tak bisa membayangkan reaksi mereka ketika mendapati kenyataan itu.
         Bertahun-tahun El hidup dalam “kegelapan”, namun itu tak lantas memaksanya untuk berhenti berkarya. Beberapa lagu hits telah ia ciptakan dan menjadi lagu andalan band-band ternama. Namun, karena “kekurangannya” itu, ia tak pernah mau tampil di hadapan publik. Malu, begitulah katanya. Ia pernah bilang padaku bahwa impiannya adalah dapat melihat indahnya dunia dan terus berkarya tanpa harus “sembunyi”.
            “Lalu, kenapa kau menangis?” desaknya lagi.
           “Ah, tak apa. Aku menangis karena bahagia. Bahagia bisa menjadi bagian dari hidupmu,” jawabku berbohong. Aku takkan mampu mengatakan apa yang sebenarnya telah membuatku meneteskan air mata. Kuremas-remas kertas vonis dokter tentang penyakitku yang sedari tadi kugenggam. Cukup aku saja yang mengetahuinya, El tak perlu.

***
            Pelangiku tersenyumlah
            Izinkan aku sejenak menikmatinya
            Agar esok ketika kau pergi
            Aku takkan menangisimu lagi

            Lagu itu masih mengalun lewat earphone yang terpasang di handphone-ku. Meski lagu itu sudah kudengar berkali-kali selama setahun belakangan ini, tapi ternyata telingaku belum bosan. Lagu itu masih menjadi favoritku. Terlebih ketika El sendiri yang menyanyikannya untukku.
            Aku terbaring lemas tanpa El di sisiku. Aku masih merahasiakan vonis dokter setahun lalu darinya. Aku berusaha agar tak membuatnya sedih karenaku. Satu bulan lagi adalah hari ulang tahunnya, rencananya aku akan memberikan sesuatu yang istimewa padanya. Beberapa menit lalu aku sudah menitipkannya pada dokter yang selalu merawatku di sini. Meski aku tak dapat hadir saat hari ulang tahunnya itu, namun mataku yang akan menggantikannya. Itu adalah kado terakhir dariku untuknya, semoga melalui mataku ini ia bisa menggapai mimpi-mimpinya, walau tanpa diriku di sisinya.

========== THE END ==========

readmore...
Jasa Desain Cover