Social Icons

Minggu, 15 Juli 2012

Untukmu (Lelaki)

Tahu kenapa aku tak percaya cinta lelaki? Karena mereka itu brengsek. Setiap rayuannya adalah racun yang dipoles serupa madu. Janjinya adalah bintang bersinar di siang hari. Mempercayainya berarti kebodohan.

Banyak kutemui lelaki, tapi hanya dua hal yang dapat kusimpulkan, brengsek atau munafik. Aku bertemu lelaki yang menangis di bawah rembulan dan perlahan tertawa saat fajar mulai menyapa, dia itulah si munafik. Lalu, aku bertemu lelaki pemuja senja, dia pernah bilang akan menggenggam senja untukku. Tapi, yang kudapat hanya malam yang semakin pekat, dia itulah si brengsek.

Pada akhirnya, aku -perempuan- mau tak mau harus memilih (atau mungkin menjadi pilihan) satu diantara mereka. Aku tak peduli siapa itu, lelaki brengsek atau munafik bagiku sama saja. Namun, satu hal yang pasti, aku -perempuan- hanya ingin menjadi satu-satunya.

Ngawi, 15-07-2012, 21:17
readmore...

Tak Mengerti

Mereka bilang percaya Tuhan, 
tapi tak memeluk agama
Mereka bilang percaya Tuhan, 

tapi masih mempertanyakan eksistensi-Nya
Ah, mereka selalu membuatku tak mengerti, 

ya, orang-orang pintar itu 


Ngawi, 15-07-2012, 11:10
readmore...

Sabtu, 14 Juli 2012

Kota Kenangan-Antologi FTS


 
 
Judul : Kota Kenangan
Penulis : Sariak Layung, Asep Fauzi Sastra, Aditya D. Sugiarso, Roma DP, dkk
Jmlh Hal : v +159 hlmn ; 13x19 cm
ISBN : 978-602-7748-02-6
Harga : 39.000 (belum ongkir)
CARA PEMESANAN :
Ketik: KK # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 085732631400
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

Sinopsis :
“Pergilah Zi, aku percaya kau akan datang kembali. Berjanjilah sekali lagi, berjanjilah kau akan kembali, bermain bersamaku di kota ini,” lanjutnya sambil menyodorkan jari ke-lingking kanannya.
“Iya, Mi, percayalah. Aku berjanji, suatu saat aku akan kembali lagi. Bermain dan bercanda bersamamu, demi persahabatan kita,” jawabku sambil menyelipkan tawa di antara isakanku. Lalu aku raih kelingkingnya dengan kelingkingku dan memeluknya. Tangis kami pun semakin menjadi.
“Pergilah!” bisiknya.
“Ayo, Nak, kapalnya sudah mau berangkat!” teriak Ibu.
Kulepaskan pelukanku. Aku berlari mantap menuju kapal. Kapal pun berjalan melawan ombak. Udara laut tidak lupa menghiburku dengan belaian segarnya. Lambaian Elmi kini tak terlihat lagi. Semoga ombak masih sudi membawaku ke kota ini untuk membuka janji kelingking dengan Elmi.

Sinopsis dari salah satu cerita tentang sebuah janji kelingking pada masa kecil, akankah janji itu dapat ditepati? Apakah mereka akan bertemu kembali untuk membuka ikatan jari kelingk-ing mereka? Temukan jawabannya hanya di buku ini.

Kontributor :
Iruka Danishwara W, Nenny Makmun, Endah Wahyuni, Larasati Nia, Niken Kinanti, Bondan Al-Bakasiy, Awiek Libra, Kamiluddin Azis, Boneka Lilin, Sandza, Mei Rizqianana, Langga Gustanto, Nina Rahayu Nadea, Muhammad Dede Firman, Fanny YS, Zahara putri, Syifa Enwa, Roma DP, Is Susanti, Peri Bulan, Nur Rokhanah, Mulyoto JJ, Alin You, Setya Ai Widi, Fuatuttaqwiyah El- Adiba, Nimas Kinanthi, Reyhan M , Cut Zamharira, Zahra Qomara

readmore...

Impian Keliling Dunia-Antologi Cerpen


 
 
Judul : Impian Keliling Dunia
Penulis : Anisa Ae, Radindra Rahman, Roma DP, dkk
Jmlh hlmn : iv+94 ; 14x21
ISBN : 978-602-18292-5-7
Harga : 30.000 (belum ongkir)

CARA PEMESANAN :
Ketik: IKD # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirin ke : 085732631400
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

--_--

Sinopsis

Kelas yang berisik mirip diskotik mendadak senyap seperti baru ada pocong lewat. Semua mata tertuju pada Rafael secara dramatis. Rafael seperti tersangka yang baru ketahuan mencuri laptop. Membuatnya tambah gugup dan nampak bloon.
“Mau apa ke Nigeria?” tanya dosen lagi.
“Enggg, jualan krim pemutih, Pak!” jawab Rafael lugu, selugu pemuda desa yang pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta.
Kelas makin senyap. Ini kampus elit. Nigeria bukanlah tujuan yang elit untuk dikunjungi mahasiswa dari kampus elit.
“Sekalian aja jualan obat rebonding sama catok rambut!” sahut Rexy dengan suara lantang. Seisi kelas langsung gempar cekikikan.
....................
[cuplikan dari “Whitening Cream”]
Hem, kurang seru bukan kalau cuma membaca sekilas cuplikan? So pasti dong! Nah, daripada penasaran dengan kegokilan-kegokilan yang ciptakan oleh para penulis dengan impian mereka ke luar negeri, yuk acak-acak impian tergokil mereka dalam buku “Impian Keliling Dunia”! Dijamin akan membuat Anda tertawa ngakak jungkir balik; 100 % komedi.
“Tak punya nyali untuk tertawa lebar-lebar? Sttt .... D.I.A.M!”

Kontributor :
Adek Artie, Asep Fauzi Sastra, Bayu Rhamadani Wicaksono, Chie Chera, Eka Nur Susanti, Endah Wahyuni, Fitria Listiarini, Mei Rizqiana, Mitha Juniar, Nanakoha, O Lihin, Risa Mutia, Roma DP
readmore...

Selasa, 03 Juli 2012

Wanita Cantik

Ibu, wanita cantik itu seperti apa?
Apakah mereka yang berkulit mulus dan putih?
Ataukah mereka yang berambut panjang dan lurus?
Atau mungkin mereka yang bersuara indah?
Mungkinkah yang berhidung mancung dan berbola mata bulat?
Ah, kalau seperti itu berarti aku bukan termasuk wanita cantik ya, Bu?

Ibu, kau selalu bilang padaku, jadilah wanita yang cantik!
Tapi, sampai sekarang aku tak mengerti, seperti apa wanita cantik itu
Bagiku, kaulah wanita paling cantik dan aku tak mungkin bisa jadi sepertimu




Ibu:
Anakku, wanita cantik itu tak hanya dalam segi fisik, tapi juga hati
Begitu juga, melihat wanita cantik bukan dengan mata telanjang, tapi dengan mata hati
Wanita cantik itu bukan mereka yang 'terlihat' berkulit putih dan mulus
Tapi, mereka yang pandai 'memelihara' keindahan kulitnya dari mata lelaki yang bukan muhrimnya
Wanita cantik itu bukan mereka yang hanya berambut panjang dan lurus
Tapi, mereka yang menyembunyikan rambutnya dengan jilbab dan mengulurkannya sampai ke dada
Wanita cantik itu bukan pula yang bersuara indah
Tapi, mereka yang mampu 'menjaga' kemerduan suaranya agar tak dinikmati oleh mereka yang tak berhak
Wanita cantik itu juga bukan hanya berhidung mancung dan berbola mata indah
Tapi, mereka yang mampu menjaga mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan hati agar tak bersentuhan dengan kemaksiatan

Anakku, begitulah seharusnya wanita cantik
Kalau cantik hanya dilihat dari fisik, maka itu akan cepat sirna seiring usia yang bertambah
Jadikanlah cantikmu abadi, bukan hanya sesaat
Wanita cantik itu selalu berhias dengan air wudhu dan perkataan yang mulia
Bukan dengan kosmetik yang mahal
Wanita cantik itu yang meneteskan air mata karena dosa-dosanya
Bukan yang meneteskan air mata karena ditinggal sang kekasih
Wanita cantik itu mereka yang tersenyum untuk bersedekah
Bukan yang tersenyum untuk merayu
Rugilah mereka yang dianugerahi raga yang indah jika hanya menyia-nyiakannya

Anakku, janganlah kamu mendermakan tubuhmu untuk orang lain
Jangan kau umbar keindahanmu di depan mata-mata penuh nafsu
Jagalah itu semua untuk suamimu kelak
Jangan kau berikan "sisa" untuk suamimu nanti
Lelaki akan lebih senang jika mendapatkan istri yang belum pernah "dinikmati" lelaki lain.
Jika ingin mendapatkan lelaki yang baik, maka jadilah wanita yang baik pula...


Ngawi, 03-07-2012, 23:32
readmore...

Kamis, 21 Juni 2012

Untuk Ibu


Izinkan aku menangis sejenak di sini malam ini

Perempuan itu
Lunglai tak berdaya
Senyum tipis tertoreh di atas bibir pucatnya
Pelangi di matanya mulai berpendar
Dari situ aku tahu bagaimana ia menahan rasa sakit
Setitik benda bening kadang kulihat di sudut matanya
Meski ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan
Perempuan itu
Aku tahu apa yang dia rasakan
Meski tak pernah kujumpai ia berkeluh kesah
Senandungnya masih kudengar lirih malam ini
Namun terselip luka di dalamnya
Sekali lagi ia sembunyikan itu dariku
Tidak tahukah ia kalau aku menyadarinya?
Perempuan itu
Terbaring lemah dan menatap nanar ke arahku
Tangan hangatnya beradu lembut dengan tanganku
Sejenak kuamati kerutan-kerutan yang mulai memenuhi wajahnya
Hatiku bergetar melihatnya bergelut dengan kesakitan
Jika mungkin, ingin rasanya kugantikan tempatnya sekarang
Biar aku juga bisa merasakan bagaimana menjadi perempuan kuat
Yang tetap tersenyum walau seribu sembilu menusuk hati
Yang tetap bersenandung walau perih mengoyak batin


*special for my mother
lekaslah sembuh Ibu ....
readmore...

Rabu, 30 Mei 2012

Fatamorgana

Oleh: Roma DP

Malam menggelayut di langit pekat. Rembulan pun enggan menyapaku. Hanya ada satu-dua bintang yang masih bersemangat menghiasi kepekatan malam. Lumayan, walau tak seterang biasanya, paling tidak itu tak membuatku tersesat dalam kegelapan. Aku terpaku di beranda rumah sambil menikmati sang raja malam menikam ruang kosong di depanku. Ditemani segelas anggur dan secawan luka yang menganga di hati, aku bersusah payah membangun benteng agar bendungan di kedua mataku tak jebol dan membanjir.

Kugigit bibir kuat-kuat. Nyeri. Tapi tak senyeri hatiku yang telah terkoyak hingga tak berbentuk. Kini, hatiku mungkin telah mati rasa bila dihadapkan dengan satu kata, cinta. Terlanjur hebat gempa yang menggoncang jiwa. Hingga menghilangkan keyakinanku pada seorang manusia yang disebut lelaki. Rasa sakit yang ditorehkan makhluk berbentuk lelaki itu terlanjur menancap kuat. Bukan salahku jika seandainya aku mengharamkan diriku untuk lelaki manapun.

Cukuplah setetes racun menghilangkan aroma wanginya cinta yang pernah kuteguk. Lelaki itu, yang dengan terang-terangan menuangkan setetes racun dalam madu. Membuat seluruh tubuhku kini lunglai karenanya. Lelaki itu, yang mengolesi bibir pahitnya dengan kata-kata manis hingga aku terhanyut dalam buaiannya. Lelaki itu, telah menghujaniku dengan seribu rayuan di hadapan matahari, namun di hadapan rembulan ia menghujamku dengan belati bermatakan dusta hingga menembus jantungku. Lelaki itu, ah, aku benci bila harus teringat dengannya. Aku jijik melihat bayangannya dalam benakku, aku mual terngiang akan suaranya yang terus memenuhi ruang-ruang di telingaku. Aku benar-benar membencinya setengah mati. Lelaki itu, tak pantas bahagia di depan mataku.

***
Setahun lalu, tepat di bawah pohon nusa indah yang kokoh tertancap di kampusku, dia -lelaki itu- menaburkan benih-benih cinta di hatiku. Dan aku, -wanita bodoh ini- dengan senang hati merawat benih itu hingga mekar menjadi bunga-bunga cinta yang memenuhi taman hati. Lelaki itu tampak sempurna dengan kecerdasan dan janji setianya, aku luluh seketika. Wanita tangguh ini telah kehilangan keangkuhan di depannya. Rela menghinakan diri demi secawan cinta yang ditawarkan lelaki cassanova itu.

“Laras, di matamu terlihat jelas masa depan kita,” bisiknya sambil menggenggam kedua tanganku. Semburat merah jambu menjalar di pipiku seketika. Aku hanya tertunduk menahan rasa malu yang tiba-tiba menyergapku. Saat itu aku benar-benar terlihat bodoh di hadapan dunia.

“Masa depan apa?” tanyaku meminta kepastian dari angan-anganku.

“Masa depan bahagia yang akan kita rajut di kemudian hari. Aku dan kamu, duduk berdua di singgasana itu, membuat iri dunia yang menatap kita.” Aku terbang hingga tak sadarkan diri. Kata-katanya membuatku lupa kalau aku seorang manusia biasa, bukan bidadari yang tersesat di bumi.

“Vin, apa kau mau serius denganku?” tanyaku lagi. Kali ini aku ingin ia menghapus segala keraguan yang merundung hatiku. Aku ingin dia meyakinkanku kalau perkataannya bukan hanya isapan jempol belaka.

“Laras, apa kau melihat keraguan di mataku? Bila kau melihatnya, maka kau boleh mengambil belati dan mencungkil kedua mataku, hingga tak ada keraguan dalam setiap jengkal jiwa ragaku!” katanya penuh ketegasan. Aku semakin melayang lebih tinggi dan tak menyadari kelak aku akan terjatuh dan itu akan sangat sakit sekali.

“Vin, kau adalah yang pertama memasuki hatiku dan merebut seluruh perhatianku. Aku tak ingin kau membuatku malu telah rela menanggalkan keangkuhanku demi cintamu.” Aku menunduk semakin dalam, takut wajahku yang tengah merah padam terlihat olehnya.

“Tak akan. Bahkan, jika kau memintaku menanggalkan harga diri dan kehormatanku, aku akan lakukan. Semua itu untukmu. Kau adalah singgahan terakhir dalam pengembaraan cintaku.” Begitulah aku terperangkap dalam permainannya. Salahku yang terlalu percaya pada lidahnya yang nyata-nyata telah bercabang dan melukai banyak hati. Salahku telah menghancurkan dinding hatiku yang susah payah kubangun untuk mencegah lelaki sepertinya masuk ke dalam salah satu ruang di hatiku.

Vino, lelaki yang salah kucintai itu memang seorang playboy di kampusku. Aku pun tahu sepak terjangnya. Seminggu, bahkan sehari ia bisa bergandengan tangan dan berpeluk mesra dengan puluhan wanita yang berhasil ia butakan. Aku yang belum pernah menganal cinta dan sengaja menutup hati untuk lelaki, khususnya untuk playboy macam Vino, ternyata berhasil dilumpuhkannya. Senjatanya benar-benar ampuh, aku menyerah tanpa perlawanan.

Meski playboy, aku melihat keyakinan itu di matanya. Pancaran dari matanya mengatakan kalau dia telah benar-benar insaf. Itulah yang membuatku akhirnya menerima dia sebagai pengisi hatiku. Aku singkirkan segala prasangka buruk tentangnya. Kututup telinga rapat-rapat dari bisikan-bisikan yang menjatuhkannya. Aku sengaja memantapkan hatiku untuk yakin padanya.

Keyakinanku semakin terbukti ketika hubungan kita mampu bertahan selama setengah tahun. Dia tak pernah kutemui berbuat macam-macam dengan wanita manapun. Sikapnya telah benar-benar berubah di mataku. Itu telah cukup membuatku membuang semua keraguan dalam benakku. Aku memutuskan dialah yang akan menjadi dermagaku. Semua orang pun melihat iri pada kami. Suara-suara yang tadinya memanasi telingaku, tak terdengar lagi. Sepertinya aku telah berhasil meyakinkan semua orang bahwa Vino telah berubah untukku. Aku pun semakin bangga karena telah berhasil menekukkan lutut seorang Vino di hadapanku.

***
Dan seminggu lalu, tepat di bawah pohon nusa indah yang masih kokoh berdiri di kampusku, dia-lelaki itu-menghujamkan belati kedustaan tepat ke jantungku. Mengoyak seluruh jiwa ragaku, meluluhlantakkan hatiku.

“Laras, maafkan aku. Ini bukan inginku.” Saat itu bukan aku yang tertunduk malu, tapi dia yang tertunduk di hadapanku. Entah karena rasa bersalah atau rasa bahagia telah berhasil membuatku menjadi satu-satunya wanita bodoh di dunia ini.

Aku terdiam terpaku di hadapannya. Mataku tak kuasa mengeluarkan air mata. Hanya hatiku tengah bergejolak menahan amarah dan rasa sakit. Takkan kubiarkan ia melihat lelehan air hangat di pipiku. Terlalu berharga air mataku bila harus terjatuh di depannya.

“Laras, aku harap kau tak marah dengan semua ini,” katanya hingga membuatku benar-benar muak. Aku meremas selembar undangan berwarna ungu yang sedari tadi kugenggam. Undangan yang seharusnya ada ukiran nama kami berdua di dalamnya. Tapi, ternyata itu tak akan pernah terjadi. Terlanjur ia memutuskan namanya bersanding dengan nama wanita lain, bukan aku. 

“Laras, aku benar-benar minta maaf padamu. Tak ada sebersit pikiran pun untuk menyakitimu. Ini pilihan orang tuaku. Aku tak bisa menolak.” Alasan klasik yang selalu diberikan seorang playboy macam dia. Dia telah benar-benar mempermalukanku di hadapan dunia. Tak ada kata maaf untuknya. Bahkan secuil pun takkan pernah ada.

***
Aku masih berdiri dengan segelas anggur di beranda rumah. Bukan rumahku, tapi rumah Vino yang kini telah dihiasi bunga warna-warni yang menebarkan semerbak wangi ke seluruh ruang kosong. Namun, bagiku itu adalah wangi kematian untuk cintana, yang ternyata hanyalah sebuah fatamorgana. Di balik punggungku terlihat sepasang manusia yang tengah berbahagia di atas perihku. Vino dan wanitanya. Dan aku disini hanya bisa menggigit bibirku keras-keras. Tak peduli walau darah segar telah menggantikan warna merah lipstik di bibirku.

“Vin, malam ini aku datang karena ingin mengucapkan selamat padamu, sekaligus mengucapkan terima kasih karena telah menghancurkan hidupku. Kelak, aku takkan sungkan untuk mencabut belati yang telah kau tancapkan dan berbalik menghujamkannya padamu. Ingatlah, aku bukanlah wanita yang rela dipermalukan di hadapan dunia!” janjiku dalam hati. Aku takkan menutup mata sebelum janjiku itu terpenuhi. Suatu saat, aku akan benar-benar membuatnya terjerembab di depanku. Tunggu saja!
readmore...

Kau dan Pintu Itu

Oleh: Roma DP

Kau, ya kau yang sudah berdiri tepat di depan pintu itu, perlahan-lahan mulai mengetuk pintu hatiku. Tanpa kusadari perlahan-lahan kuintip kau dari balik pintu itu. Kutatap wajahmu yang tampak semu, entah kenapa terlihat buram. Kutanya apa perlumu, dan kau menjawab ingin singgah. Aku lantas tersenyum, tapi pintu itu belum juga kubuka untukmu. Lama aku berdiri di balik pintu itu sambil mendengar celotehmu dan tanpa sadar aku terhanyut olehmu. Benar-benar gila. 


Waktu terus bergulir, kakiku sudah pegal berdiri di balik pintu itu, namun kau belum juga beranjak dari sana. Kau bilang akan terus menunggu sampai aku membukakan pintu itu untukmu. Tentu saja aku merasa sangat tersanjung. Tapi, segera kutepis itu semua. Aku sadar, jika aku membuka pintu itu kau akan terjebak di dalamnya dan tak akan pernah keluar lagi. Aku takut kau akan mati pelan-pelan karena di dalam tersimpan serigala yang sedang kelaparan. Aku takut kau tak akan kuat bertahan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengunci rapat-rapat pintu itu. Dengan kasar kuusir kau agar menjauh dari situ. Namun apa? Kau tak juga beranjak. Aku putus asa, tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat untuk menjauhkanmu dari pintu itu. Akhirnya, akulah yang harus menjauh. Sesaat terasa ada yang hilang dan segeralah sunyi datang menyergap. Tapi, aku harus bertahan meski tenggorokan serasa tercekik. 

Beberapa waktu berlalu, aku kembali. Aku kaget setengah mati ketika mendapatimu masih di depan pintu itu. Masih dengan senyum yang sama kau berdiri tanpa bergeser sedikitpun dari sana. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus membuka pintu itu untukmu dan membiarkan kau menghadapi serigala yang semakin kelaparan itu? Atau harus aku menjauh dan kembali bercumbu dengan kesenyapan? Ah, ini benar-benar membuat dilema. Yah, akhirnya kuputuskan untuk menjauh (lagi) meski kutahu kita akan sama-sama terluka. Tapi, setidaknya kau masih bisa hidup dan tak harus meregang nyawa di mulut serigala kelaparan itu.

readmore...

Minggu, 20 Mei 2012

Hati Terbelah

Oleh: Roma DP


Rinai hujan mulai membasahi bunga-bunga mawar di depan rumahku. Kelopak mataku berkedip-kedip memandang syahdunya pemandangan senja ini. Tak terasa jiwaku pun ikut merasakan kesejukannya. Jauh meresap ke dalam dada. Meredam percikan-percikan api amarah yang menyelubungi hatiku.

Aku mengalihkan pandangan pada melati yang tumbuh merambat di pagar rumah. Bunganya putih bersih, harum baunya mampu menghipnotis kumbang-kumbang. Aku pun terperangah pada keelokannya. Memang benar-benar bunga yang menawan, Jasmine, seperti nama kakakku. Kakakku memang cantik, tak hanya parasnya, tapi juga hatinya. Tak pernah kuberjumpa orang secantik kakakku. Kecantikan alami dari Tuhan yang benar-benar membuatku iri padanya.

Aku selalu membandingkan diriku dengan kakakku. Kenapa aku yang adik kandungnya tak bisa secantik dirinya? Setiap menatap wajahnya, aku hanya bisa tersenyum kecut, tapi dalam hati mengaguminya. Entah perasaan apa yang aku rasakan, hanya sekedar irikah? Aku pun tak mengerti itu.

Ada SMS ... Ada SMS ... Ada SMS....

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Cepat kulihat layar yang sudah berkedip-kedip. Elang.

“Kamu dimana?” begitulah bunyi sms yang masuk dari Elang. Ya, Elang kekasihku yang sudah berhasil membuatku galau itu.

“Di rumah,” kuketikkan beberapa huruf padanya, lalu kutekan send.

Ah, dia selalu bisa membuatku galau. Walau begitu, aku tak bisa marah padanya. Mungkin aku terlalu sayang dan cinta, hingga mampu mengubur amarahku.

Ada SMS ... Ada SMS ... Ada SMS ....

Secepat kilat ia membalas SMS-ku, tak seperti biasa. Kutekan Read.

“Aku kesana sekarang,” singkat, padat, dan jelas. Ah, seperti biasa, tak pernah bisa sedikit berbasa-basi padaku. Tak ada kata sayang, cinta, maupun rindu yang terselip diantara huruf-huruf dalam SMS-nya. Membuatku semakin tak karuan. Mau marah, tapi tak bisa.

“Dis, kamu kenapa?” tiba-tiba kakakku menepuk pundakku dari belakang.

“Eh ... nggak apa-apa kok, Kak,” jawabku sedikit kaget.

“Nggak mungkin, pasti ada apa-apanya deh! Bendungannya udah mau rubuh tuh!” Kakakku mengusap lembut pipiku.

Ah, kenapa kau malah sebaik ini padaku? Padahal aku sempat iri dan benci padamu?” Batinku.

“Elang mau kesini katanya dan aku belum siap mendengar apa yang akan dikatakannya, pasti dia bakalan lebih milih kakak kan?” Linangan air mata mulai jatuh dari mataku, mengalir lamban di pipiku. Kakakku hanya membisu.

Elang, kekasihku, ternyata dia juga mencintai kakakku. Seminggu yang lalu ia mengakuinya. Hatiku seperti remuk rasanya. Aku sadar, aku memang tak lebih baik dari kakakku. Dia hampir sempurna, sedangkan aku? Berdiri saja masih butuh penyangga agar tubuhku tak roboh. Tapi, sebisanya aku ikhlas dengan pilihan Elang nantinya.
readmore...

Mencari Kehidupan


Aku duduk terdiam di bawah pohon beringin. Suasana siang ini memang begitu terik. Peluh membanjiri kening juga kerudung biru laut yang membalut kepalaku. Kuperhatikan sekelilingku, benar-benar tak ada tanda-tanda akan datangnya sesosok manusia kesini. Di tengah kesunyian ini, pikiranku melayang jauh menembus masa lalu. Senyum masa kecilku tampak samar, yang jelas terlihat hanya air mata yang membanjiri sebagian masa hidupku. Aku tersenyum kecut mengingat itu semua. Aku hanya peri kecil yang terbuang. Kata mereka aku manusia jalang, sampah masyarakat. Sungguh terekam jelas perkataan mereka dalam memori otak yang tak seberapa ini. Pedas dan menusuk. Sebenarnya apa salahku? Kerugian apa yang ditanggung mereka karenaku? Moral, begitulah jawabnya.

Kadang aku bertanya, dimana mereka yang menghujatku saat aku butuh uluran tangan? Dimana mereka saat ibuku meregang nyawa karena kekurangan darah akibat terlindas truk bermuatan pasir? Mereka pura-pura tak tahu dan menutup pintu rapat-rapat. Mereka pura-pura tak mendengar saat aku merintih kelaparan. Mereka berpaling saat aku membutuhkan sandaran. Lalu pantaskah mereka mencibir atas keadaanku? Sekali lagi, aku hanya tersenyum kecut.

Matahari masih pada posisinya saat aku kembali mengusap peluh yang mengucur. Keadaan masih sunyi. Kembali aku menyusuri lorong waktu. Mengingat betapa mirisnya awal ungkapan “wanita penghibur” melekat padaku. Ayahku tak tahu kemana saat berhasil membuat ibu mengandung, sedang ibu telah tenang bersama-Nya. Sejak saat itu aku hanya hidup dari tutup-tutup botol minuman berkarbonasi yang kususun di atas sepotong kayu. Jangan tanya dimana mereka yang menghujatku! Setetes air pun tak pernah terulur dari tangan mereka.

Ternyata semakin beranjak remaja, hidup tak cukup hanya dari tutup botol saja. Aku mulai bergerak, mencari penghidupan lain. Pergerakan itu membawaku pada suatu kehidupan kelam. Mereka menyebutnya “prostitusi”. Aku tak tahu apa itu artinya, yang kutahu aku bisa menghasilkan uang dalam semalam. Aku juga tak tahu kenapa mereka mulai mengusikku sejak saat itu. Bukankah mereka tak peduli dengan kehidupanku? Lalu kenapa malah menggangguku? Aku benar-benar tak mengerti.

“Dis,” tegur seseorang di dari belakang. Aku terhenyak. Sesosok wanita cantik berbalut jilbab putih bersih, tersenyum manis padaku. Dokter Faizah.

“Ya, Dokter?” aku menatapnya dengan mata sayu.

“Saya cemas lho nyariin kamu, ayo kita kembali ke kamar!” ajak dokter Faizah. Aku hanya mengangguk menerima ajakannya. Sudah beberapa bulan ini aku dirawat oleh dokter Faizah di rumah sakit. Dia berbaik hati mengulurkan tangan saat aku terkapar tak berdaya karena suntikan zat adiktif. Dia yang mengenalkanku pada Tuhan. Dia yang tak menjauh saat HIV menggerogoti tubuhku. Aku benar-benar beruntung bertemu dengannya di akhir perjalanan hidupku. 
readmore...
Jasa Desain Cover