Social Icons

Minggu, 09 Desember 2012

-Nasi Pecel-


 
Sepiring nasi pecel telah tersaji di meja makan. Lagi-lagi kau hanya tersenyum kecut memandanginya. Aku tahu apa yang kaupikirkan. Memang aku tak pandai memasak.
Katamu aku hanya bisa merayu dan berdandan.

Kau tak percaya nasi pecel itu buatanku. Tapi, aku jujur. Nasi pecel itu memang buatanku. Seminggu kemarin aku belajar dari ibu. Beliau memberi resep turun-temurun. Sampai akhirnya sekarang aku bisa menghidangkannya untukmu. Sayangnya kau belum percaya nasi pecel itu buatanku.

Kau memang lebih suka masakan Fatimah. Janda cantik pemilik warung depan rumah. Daripada nasi pecel itu mubadzir dan tak barokah. Lebih baik kuberikan pada tetangga sebelah. Hitung-hitung buat sedekah.

Tak lama, kau menanyakan nasi pecel itu. Karena kau lapar dan Fatimah tak berjualan hari itu. Katamu, daripada kelaparan, lebih baik makan nasi pecel yang kuhidangkan untukmu. Meski kau belum percaya itu buatanku.

Maaf sayang, aku terlanjur tak menyisakan untukmu. Tetangga sebelah lebih menghargai jerih payahku, daripada kau, suamiku. Jadi, jangan tanyakan lagi tentang nasi pecel itu. Karena mulai sekarang aku tak akan lagi menghidangkannya untukmu. 


gambar: sumber 
readmore...

Rabu, 05 Desember 2012

Ziarah Hati

 

Dalam buku ini, Anda (selaku pembaca) akan mendapati kisah-kisah yang tertutur impresif. Pengisahan yang terpapar pun minim "bunga-bunga kata". Cukup lugas, namun gamblang. Ini tentu menjadikan antologi cerita--yang berangkat dari fakta--dalam buku ini memiliki pesan dan kesan khusus di hati pembaca: mengeratkan jarak "Teks" dan "konteks", serta mengartikan hidup di atas kehidupan. Semoga.

Info buku: Citra Mediagroup
readmore...

Say No To Tattoo

Judul : Say No To Tattoo
Penulis : Anung D'Lizta, Arinda Shafa, Rivyana Intan
Prabawati, Roma DP dkk
Penerbit : deKa Publishing

ISBN 978-602-18817-3-6
Tebal : ix + 139 hlm. ; 13x19cm
Harga : Rp. 36.000,- (belum termasuk ongkir)
HARGA SINGAPURA $11.50

SAY NO TO TATTOO!
Karena Hidup adalah Pilihan.
Penyesalan selalu datang di akhir perbuatan bagi siapapun yang menyimpang dari kaidah atau norma agama. Jangan sia-siakan hidup ini dan lepas dari anugerah-Nya dengan melanggar peraturan yang mengajak kita pada tatanan yang lebih indah dan benar. Apalagi karena cinta, jangan jadikan hidupmu berada jauh dari garis Tuhan. Bila tinta telah bersatu menjadi daging, dan air tak mampu meresap maka itu suatu tanda-tanda syarat ibadah kita kurang sempurna. Say No To Tattoo maka kita selamatkan air suci yang mengantarkan kita kepada Sang Maha Pencipta.

***

[CARA PEMESANAN]
Ketik SMS =

# Pesan SNTT #
Nama Penerima :
Alamat Lengkap :
Kodepos :
Jumlah Buku :
No. HP :

Kirim ke 083879804181 atau inbox DeKa Publisher
Kami akan mengirimkan total yang harus dibayar serta pemberitahuan nomor rekening.
readmore...

-Kopi-




Kopi yang kuseduh belum kausentuh sama sekali. Padahal sudah sedari maghrib tadi. Kau terus termangu memandanginya. Ya, hanya kaupandangi, tanpa kausentuh sama sekali.

Kopi yang kuseduh sudah terlalu dingin. Tapi, tak kunjung kaujamah. Asapnya tak lagi mengepul, aromanya pun sudah tak berbekas.

Kopi yang kuseduh telah basi sebelum kauhirup. Apa karena warnanya kurang memikat seperti kopi-kopi yang sering kaubeli di luar sana? Atau kau curiga aku menaruh racun di dalamnya?


"Apa itu benar kopi yang kauseduhkan untukku?"

"Pertanyaan macam apa itu? Hanya kau suamiku, lalu untuk siapa lagi kuseduhkan kopi itu?"

"Lalu, kenapa harumnya berbeda?"

Aku terdiam. Kopi yang kuseduh salah takar. Satu sendok kopi, satu sendok gula dan satu sendok krim. Itu harusnya takaran untuk kekasihku. Bukan untuk suamiku. Ceroboh. 


Gambar: dari sini
readmore...

Rabu, 07 November 2012

Happy Birthday, Friend :)


Detik demi detik berlalu, tinggalkan lembaran-lembaran usang. Ke mana kaki melangkah, di situ pula kau akan menuliskan cerita pada lembar-lembar berikutnya. Lantas, pada lembaran mana aku berada? Kuharap kau masih setia menuliskan namaku pada setiap lembaran hidupmu. Ah, itu hanya keinginanku kawan, tak usahlah kaupikirkan. Kawan, mari sejenak kembali berjalan ke belakang. Kita lihat seberapa berdebunya kisah kita. Saat pertama kali kita bertemu dengan ingus yang menggenang di bawah lubang hidung. Saat di mana kita mengenakan seragam hijau-putih untuk pertama kalinya. Apa kau masih ingat? Lalu tahun-tahun pun berlalu dengan cepat hingga hijau-putih pun berganti biru-putih. Kita masih bersama. Setiap pagi kau sudah berada di depan rumahku, lalu kita bersama berangkat mengais ilmu. Beberapa tahun kemudian biru-putih pun berganti menjadi abu-abu-putih. Kita masih tetap bersama.

Kawan, kini usiamu memasuki 21 tahun. Bukan lagi masa-masa remaja yang akan kau lalui. Dewasa. Ya, kau sudah sampai pada tahap itu. Lebih bijaklah dalam melangkah. Genggam erat iman dan ilmu yang kaupunya, jangan sekali-kali kau lepas, karena hanya itu bekalmu. Kawan, di umurmu yang memasuki kedewasaan ini, aku berharap segala yang terbaik buatmu. Percayalah, Tuhan bersamamu. :)

Happy birthday, Friend :)

To: Novi Ardianawati (07-11-1991)


Madiun, 07-11-2012
00:40
readmore...

Jumat, 02 November 2012

Happy Birthday, Kawan :)


00:15. Mataku masih terjaga, meski hening telah menyelimuti malam. Pikiranku melayang menembus kabut tipis, hingga sampai pada sosokmu di ujung sana. Jari-jariku perlahan bergerak menyusun kata demi kata -meski tak indah- untukmu. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu di hari spesial ini, tapi apa? Hanya sebatas doa dari manusia yang tak sempurna ini yang kutitipkan lewat hembusan angin.

Angka 21. Tak terasa kau sudah dewasa sekarang. Padahal rasanya baru kemarin kita berkenalan. Apa kau tahu, terkadang aku merindukan saat-saat kita masih memakai seragam abu-abu. Bersama-sama mengayuh sepeda, menembus hujan. Ah, itu sudah lama sekali ya? Meski sekarang semuanya telah berubah, tapi kau masih tetap sama, masih tetap menjadi sahabat yang baik bagiku.

Semoga di angka 21 ini semua keinginanmu diluluskan Tuhan. Bijaksanalah dalam melangkah, kau bukan anak SMK lagi sekarang. Kejarlah apa yang menjadi cita-citamu, jangan hiraukan mereka yang menghalangi langkahmu. Percayalah, Tuhan bersama orang yang bersungguh-sungguh. :) 


Happy birthday, my best friend :)



To: Meta Khoiriyah (02 November 1991)
 

Madiun, 02-11-2012
00:15
readmore...

Senin, 29 Oktober 2012

Keep Smile :)



Bukan hal yang mudah untuk selalu tersenyum dan memasang wajah "enak dilihat" pada semua orang setiap saat, seolah-olah menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Meski hati sudah hampir remuk, tetapi harus berpura-pura tak ada masalah. Hidup tanpa beban, itulah yang selalu ingin mereka lihat. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana mereka dihargai, dimengerti dan dipahami, tanpa peduli bagaimana perasaan orang lain. Yah, begitulah susahnya jika ingin merebut hati orang lain, harus siap "makan hati" dan jangan pernah katakan, "Aku juga ingin dimengerti!" :)


*Public Relation Lecture
readmore...

Rabu, 24 Oktober 2012

Rembulan Singgah Sesaat






Rembulan Singgah Sesaat

Penulis: Kamiluddin Azis, Wirasatriaji, Iruka Danishwara, Gagak Sandoro, Petra Shandi, Poery Permata, Roma DP, dkk, 

Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-225-526-0

Terbit: Oktober 2012
Halaman : 218, BW : 219, Warna : 0

Harga: Rp. 45.000,00

Deskripsi:
Rembulan Singgah Sesaat, menepis keraguan yang selama ini bergelayut di hati Suhadi. Laki-laki itu dengan setia menanti mantan istrinya yang pergi bekerja menjadi TKW di luar negeri. Setelah menceraikannya, tepat pada hari keberangkatannya, Suhadi berharap bisa kembali rujuk saat Warsih, mantan istrinya pulang dua tahun kemudian.

Setiap malam dipandangnya langit pekat. Berharap rembulan akan singgah di atas Kampung Sukadamai. Singgah di hatinya yang diliputi rasa rindu tiada tara. Ia sangat berharap Warsih akan kembali ke pangkuannya sebagaimana rembulan selalu setia bertengger di cakrawala malam. Sekelam apapun. Tetapi, akankah nasib berpihak kepadanya. Akankah perempuan berwajah rembulan itu kembali singgah di hati Suhadi untuk selamanya? Ataukah Tuhan memiliki rencana lain, yang sama sekali tak pernah diduganya? Sebuah novelet indah karya Kamiluddin Azis, yang akan mempermainkan perasaan Anda saat dan setelah membacanya.

Dalam buku ini juga terdapat serangkaian kisah singkat dan puisi-puisi indah yang disajikan dengan begitu memesona. Kisah penuh makna yang digali dengan sepenuh hati ini dirangkai oleh penulis-penulis yang tergabung dalam grup Pustaka Inspirasi-ku, yakni : Kamiluddin Azis ~ Wirasatriaji ~ Iruka Danishwara W ~ Gagak Sandoro ~ Petra Shandi ~ Poery Permata ~ Roma DP ~ Annisa Ramadona ~ Nimas Kinanthi ~ Vinny Erika Putri ~ Fitria Handayani Meilana Sari ~ Remunggai M ~ Asep Fauzi Sastra ~ Ali Bachtiar ~ Emma Marlinah ~ Harry Gunawan ~ Muhammad Dede Firman ~ Ken A. Rion ~ Fanny YS ~ Prast Respati Zenar ~ Arini Riesha Septiana ~ Eleazar Latif ~ Aliyah Maulidah ~ Atika Nur Sabrina ~ Vysel Arina ~ Elsa Aprilia ~ Junita Susanti ~ Ayesha Syarif ~ Marlyn Christ ~ Rivyana Intan Prabawati ~ Septiani Ananda Putri ~ Aldy Istanzia Wiguna
 
bisa dipesan di Rumah Buku Pustaka Ilmu
atau www.leutikaprio.com
atau melalui sms 083829021076
readmore...

Senin, 22 Oktober 2012

Sebuah Kejutan





Roma DP

Pagi ini terasa beda. Suasana dingin masih menusuk tulang meski mentari mulai melepas jingganya. Aku masih meringkuk nyaman dalam selimut tebal. Mengacuhkan jam weker yang sedari tadi berteriak-teriak hingga memekakkan telinga. Pun tak peduli dengan deringan suara handphone yang sedari tadi berdering, entah telepon dari siapa. “ah, paling juga Lusi,” pikirku. Lusi –temanku- memang terbiasa membangunkanku pagi-pagi agar aku tak telat ke kampus.
     Beberapa menit kemudian, entah kenapa jam weker yang biasanya pantang menyerah sebelum kubanting itu tiba-tiba berhenti berteriak-teriak. Aku menyunggingkan senyum kemenangan. Jadi aku tak perlu repot-repot membantingnya. Tak lama kemudian handphone yang riang menyanyikan lagu Evanescence itu turut terdiam. “Hah, tumben Lusi segampang itu nyerah?” Senyum penuh kemenanganku pun kembali tersungging dengan indahnya. Tapi, aku penasaran juga, kulirik sekilas handphone yang masih menyala itu. Samar terbaca “10 missed call”. Aneh, biasanya Lusi hanya akan berhenti menelepon setelah 30 kali tak kuangkat. Dengan malas kutekan tombol yes pada handphone-ku. Ada satu nama dan itu membuatku terhenyak.
  “Hah? Andreeeeeeeee ....” Aku kelabakan tak karuan. Buru-buru kutelepon balik. Beberapa detik kemudian terdengar suara berat laki-laki dari seberang sana.
        “Hallo.”
    “Waaaaa ... Maaf, tadi kukira Lusi, jadi tak kuangkat.” Aku berusaha menjelaskan agar Andre –kekasihku- tak salah paham.
       “Iya, sayang, nggak apa-apa kok. Aku tahu kamu pasti belum bangun.” Suara lembut Andre menenangkanku.
     “Ah, kamu. Aku kan jadi malu. Eh, ada apa? Tumben, pagi-pagi telepon?” Tanyaku.
       “Nggak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja,” katanya penuh rayu.
      “Hahaha ... bisa aja. Kamu kapan pulang? Aku juga kangen nih,” tanyaku manja. Sudah dua tahun ini Andre menempuh pendidikan di Australia. Biasanya selalu pulang kalau libur tiba, tapi karena kesibukan menjelang skrispsi dan kerja paruh waktunya yang tak bisa ditinggal, akhirnya aku yang dibiarkan sendiri di sini.
        “Seminggu lagi aku pulang,” jawabnya singkat, tapi langsung membuatku meloncat kegirangan.
          “Hah? Beneran?” Tanyaku tak percaya.
      “Iya, ada beberapa dokumen yang perlu kuurus, makanya aku pulang. Lagian aku juga kangen sama kamu, pengen cepet-cepet ketemu. Ya udah, aku mau berangkat ke kampus dulu. Nanti siang aku telepon lagi ya.”
        “Iya, hati-hati ya.” Tut ... tut ... tut .... pertanda telepon yang diseberang telah ditutup.
         Seminggu lagi ulang tahunku, jangan-jangan Andre sengaja pulang untuk memberi kejutan padaku? Wajahku pun langsung memerah tomat, membayangkan Andre datang dengan kejutan yang kuharapkan. Pasti akan sangat menyenangkan ditemani sang kekasih di hari paling istimewa. Aku jadi tak sabar menantikan kedatangan Andre.

***
      “Andre mau balik,” kataku tiba-tiba pada Lusi yang sedang asyik minum es jeruk di kantin kampus.
      “Uhuk ... uhuk ....” Entah kenapa Lusi tiba-tiba kaget begitu, sampai tersedak.
       “Kenapa? Gak usah segitunya kali. Emang aneh kalau Andre balik?” Tanyaku kesal.
      “Bu ... bukan begitu, tapi kenapa tiba-tiba aja balik? Bukannya ini belum liburan ya?”
       “Gak tau juga sih, katanya ada dokumen penting yang harus dia urus,” jawabku sambil senyum-senyum.
       “Ya udah selamet deh yang pacarnya mau pulang, tapi jangan cuekin aku ya nanti,” canda Lusi.
       “Iya, Lusi sayang, mana mungkin aku tega nyuekin kamu?” Godaku. Aku tersenyum, begitupun dia, sahabat terbaikku.

***
      Besok ulang tahunku dan besok Andre baru akan pulang, katanya. Dengan perasaan berbunga-bunga aku berencana mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk orang-orang yang aku sayangi. Langkah kakiku pun membawa sampai ke mall dekat rumah. Sengaja aku tak mengajak Lusi karena aku ingin memberi kejutan padanya. Biasanya aku tak pernah mengadakan pesta ulang tahun. Tapi, karena bertepatan dengan moment istimewa, maka aku ingin membaginya pula dengan orang-orang terdekat.
       Aku tersenyum riang sambil membayangkan kejutan apa yang akan diberikan Andre. Membayangkan bagaiamana terkejutnya Lusi dengan pesta kecil-kecilan yang akan kubuat. Sungguh tak sabar rasanya menantikan esok hari. Besok mungkin aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Di hari istimewaku akan dikelilingi orang-orang yang istimewa pula.
   Aku mulai memasuki bangunan megah tempat orang menghabiskan uang. Biasanya aku tak pernah pergi ke mall sendirian, selalu ditemani mama atau Lusi. Kaki-kaki kecilku langsung menuju food court gara-gara teriakan tenggorokanku yang dari tadi tercekik saking panasnya cuaca hari ini.
Langsung kupesan lemon tea yang menggoda. Sembari menunggu pesanan, kuedarkan pandangan ke sekitar food court. Ternyata hanya aku yang datang sendiri. Semuanya datang dengan keluarga, teman-teman atau pacar mereka. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, sebelum akhirnya aku melihat sesuatu yang ganjil di situ. Mataku tertuju pada salah satu meja yang berada di pojokan. Seketika langsung terbelalak.
Harapan-harapan indah yang tadi kususun rapi di hari istimewaku, kini hancur berkeping-keping. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, lututku bergetar dan kakiku serasa lemas. Ini benar-benar sebuah kejutan. Andre dan Lusi. Duduk berdua sambil berpegang tangan mesra. Bagus, mereka telah berhasil membuat kejutan yang benar-benar mengejutkan menjelang hari istimewaku.
Butiran air mata mulai deras mengalir di pipi. Kubalikkan badan dan berlari menjauh. Tak kuasa melihat pemandangan itu di depan kedua mataku. Sungguh, ini benar-benar kejutan. Selamanya, tak akan pernah kulupakan. Kejutan menjelang hari istimewaku yang mereka berdua berikan. 

 Gambar: dari sini
 
readmore...

Kamis, 18 Oktober 2012

-Satu Kalimat-




Roma DP


Hadirmu dalam hidupku bagai tetesan air langit di tengah kemarau panjang. Perlahan hapuskan keringnya rasa di hatiku. Kau tawarkan manisnya hidup dengan secawan cinta. Aku pun luluh dengan rayuanmu, meneguk semua cinta yang kau tawarkan. Kuberikan irisan hatiku yang terakhir, berharap kau mampu menjaganya.
            Kau taburkan sejuta janji indah demi meyakinkanku. Entah kenapa begitu saja kupercaya. Kata hatiku kaulah yang terakhir, hingga berani kutitipkan segala cinta yang kupunya. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi semua tak kuhiraukan karena terlanjur kupercayaimu.
            Aku tak salah. Hari-hariku sejak bersamamu semakin berwarna. Kau pelangi yang mewarnai hidupku. Menorehkan seribu warna baru di setiap detik waktuku. Aku bersyukur menemukanmu setelah badai hebat mengoyak batinku. Kau pulihkan semua luka yang bersarang dalam diriku hingga aku sangat bergantung padamu. Kau menjadi alasan kenapa aku harus terus bertahan dalam perang melawan pahitnya masa lalu.
            “Aku ada untukmu,” katamu yang selalu kuingat. Satu kalimat yang menjadi penguat dalam setiap langkah. Satu kalimat yang memberi semangat dalam hidupku.
            “Apa kau yakin akulah dermagamu?” tanyaku ragu.
            “Ya, aku yakin.” Tegas kau ucap padaku.
            Waktu terus berputar, tak ada seorang pun yang mampu menghentikan. Begitu pula dengan kepergianmu. Tak sadar aku terlena dalam buaian cintamu, hingga kumelupakan bahwa kau adalah seorang lelaki. Ya, satu hal yang paling kutakuti dari seorang lelaki adalah ‘ketidaksetiaan’. Kau, perlihatkan itu padaku setelah kau buat aku percaya. Kau tiba-tiba menghilang membawa seluruh hati dan cintaku, meninggalkanku dalam kehancuran lagi.
            “Aku tak bisa lagi bersamamu.” Satu kalimat yang menggantikan satu kalimat yang dulu pernah membuatku bangkit. Satu kalimat yang menjatuhkanku kembali dalam jurang terdalam. Satu kalimat yang akhirnya membuatku sadar bahwa tak seharusnya kupercayai perkataan seorang lelaki sepertimu. 

Gambar: dari sini
readmore...
Jasa Desain Cover