Social Icons

Sabtu, 19 Mei 2012

Cintakah?


 Orang-orang bilang dia adalah psikopat. Aneh dan tak wajar. Tapi, di mataku dia beda. Unik. Bukan kumenutup mata atas semua kelakuan ganjilnya, namun aku malah melihatnya sebagai daya tarik. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menelan hidup-hidup setiap orang yang ada di hadapannya itu telah membuatku jatuh hati. Juga cekungan di sekeliling bola matanya yang menghitam adalah pesona tersendiri. Rambut gimbal dan bibir yang pucat, itu eksotis menurutku. Aku benar-benar tak peduli ketika orang lain sudah menganggapku gila karena penilaianku itu.

“Dia psikopat, tak normal!” ucap seorang teman padaku.

“Tidak, dia hanya sedikit berbeda dari orang kebanyakan dan itulah yang membuatnya menarik. Aku suka.”

“Apa kau tak ingat Wati, Ningsih, Wulan, juga Kinan?”

“Aku ingat. Tapi aku tak percaya!” tegasku. Palu sudah kuketuk dan telah kuputuskan untuk menutup telinga rapat-rapat dari gunjingan orang yang selalu berdengung seperti tawon di telinga. Terserah orang mau menganggapku bebal atau apa. “Inilah cinta, kawan!” ucapku dalam hati.

Tanpa kuduga, dia membalas perasaanku, masih dengan sorot tajam matanya. Dia telah menabuh genderang dalam hatiku dan menghapus kidung sunyi yang telah lama bersemayam dalam jiwa. Aku bahagia, walau kutahu orang lain semakin cemas melihatku terseret lebih jauh ke dalam lingkaran hidup lelaki bermata sayu itu.

Suatu sore, lelaki itu mengajakku bertandang ke rumahnya. Dia bilang akan memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Tentu saja kuterima dengan senang hati. Dengan sikapnya yang dingin, ia menggandeng tanganku menuju rumah yang sedari telah ia ceritakan. Rumah yang katanya penuh cinta. Tapi, aku tak tahu apa maksudnya.

Rumah itu, mungkin jika orang lain yang melihat akan mengira bahwa itu adalah rumah tua yang tak berpenghuni. Namun, tidak bagiku, itulah lukisan kenyamanan. Cat putih yang sudah kusam dan terkelupas sana-sini. Tumbuhan merambat yang menyelubungi tembok-tembok rumahnya. Tak ketinggalan pohon akasia dan kamboja yang berdiri gagah di depan rumah. Aku menyukainya.

Dia membawaku masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang unik, seperti pemiliknya. Dia terus menggandengku hingga sampai ke sebuah ruangan yang berukuran cukup lebar.

“Kamarmu?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan meninggalkanku disana sendirian.

Kuamati sekeliling ruangan itu. Gelap dan pengap. Ia menutup semua jendela dengan gorden yang cukup tebal. Penerangan hanya berupa lampu lima watt yang sudah hampir mati. Bau tak sedap segera saja menusuk-nusuk hidungku. Ah, sepertinya aku pernah mencium bau ini, tapi dimana? Aku lupa.
Ada cermin cukup besar yang bersandar di tembok ruangan itu. Di sisi lain, berhadapan dengan cermin itu, berjejer benda dari kayu seukuran lemari, tapi tak hanya satu, ada lima. Penasaran, kudekati benda itu, kuraba dan kurasakan ada ukiran di situ. Bentuknya unik, seperti benda yang sering kulihat di toko depan rumahku.

“Ada apa?” Aku tersentak ketika mengetahui  lelaki itu sudah berada tepat di belakangku.           

“Eh, tidak. Aku hanya penasaran dengan benda ini,” kutunjuk jejeran benda yang sedari tadi menarik perhatianku itu.

“Oh, itu. Itu cinta,”

“Cinta? Apa maksudmu?” Aku mengerutkan kening. Tak mengerti apa yang dia ucapkan tadi.

“Sebentar lagi kau akan tahu.” Lagi-lagi aku mengerutkan kening. Sedetik kemudian aku baru mencerna kata-katanya saat kulihat sorot tajam matanya yang tiba-tiba berubah. Mataku beralih pada cermin besar yang dipunggunginya itu. Ah, itulah yang kusesalkan. Bola mataku menangkap benda tajam berkilauan tergenggam kuat di balik punggung lelaki itu. Otakku liar berpikir dan akhirnya aku bisa menebak apa yang kira-kira tersembunyi dalam benda yang terbuat dari kayu seperti lemari itu.
readmore...

Rok Mini



“Rok mini masuk kampung ... Rok mini masuk kampung ....” Teriakan orang-orang kampung membahana di seluruh angkasa raya. Gendang telingaku pun  tergelitik untuk terus mendengarkan. Jika dahulu ada yang bilang, “listrik masuk desa.” Sekarang muncul lagi istilah, “Rok mini masuk kampung.” Aku tak mengerti apa maksudnya.
            Tanpa alas kaki, aku berlari-lari menuju depan rumah demi melihat keramaian yang sedang terjadi. Berbondong-bondong warga kampung mengelilingi gerobak kayu yang di atasnya ada seorang laki-laki gagah dengan toa di tangan. Matanya berapi-api seperti ingin membakar jiwa-jiwa warga kampung yang memang sedang labil. Aku hanya bisa melihat dari jauh karena gerombolan itu sudah begitu membanjiri jalan-jalan becek sehabis hujan.
            “Ayo ... ayo ... dibeli-dibeli, murah! Hanya dengan sepuluh ribu sudah dapat tiga potong!” teriaknya pada kerumunan orang-orang yang berdiri di bawahnya.
            Ah, apa-apaan ini? Orang itu datang membawa seabrek rok mini yang diobral dengan murah. Tapi, kami orang kampung, takkan menyia-nyiakan uang sepuluh ribu demi sepotong rok mini. Anak-anak kami masih butuh makan.
            “Ayo, tunggu apalagi? Kalau tak punya uang tak apa, asal masih ada moral, akhlak, iman dan malu. Itupun bisa ditukar untuk satu rok mini!” teriaknya lantang seperti bisa membaca pikiranku.
            Dasar orang gila! Yang lebih gila lagi ternyata warga kampung tertarik dengan penawaran itu. Mereka keluarkan semua apa yang mereka miliki demi sepotong rok mini. Mereka gadaikan moral, iman, akhlak juga rasa malu, mereka tukar semua itu. Tak hanya yang muda, yang tua pun tak kalah saing. Dunia memang sudah gila. Dan aku pun ternyata juga sudah gila, karena ikut mengantre demi mendapatkan sepotong rok mini itu. Rencananya akan kugadaikan santunku, hanya itu satu-satunya yang bisa kutukar. Aku sudah tak mempunyai moral, karena telah lama kugadaikan demi lembaran merah bergambar dua orang pria berpeci.
readmore...

Kamis, 12 April 2012

Terbelenggu Rindu



        Bukan salah siapa-siapa aku begini. Kekonyolan tingkah lakuku memang tak bisa dikendalikan. Orang bilang aku ababil, yang akhirnya membuatku terpuruk. Selama sembilan belas tahun perjalanan hidupku, baru kali ini kurasakan perasaan hampa mahadahsyat seperti ini. Hanya sendiri berdiri di tengah luasnya jagad raya. Bertumpukan kerapuhan jiwa. Terombang-ambing pada lautan kehidupan yang makin mengganas. Tanpanya aku bagai putik dandelion yang terbawa angin.
        Pagi ini kucoba membuka kembali lembaran-lembaran usang dalam memoriku. Masih terekam jelas walau berselimutkan debu dusta dan durhaka. Manisnya masih terasa walau hanya dalam angan. Dia membelai rambutku dengan tulus penuh kasih. Dipeluknya tubuhku yang ringkih. Kala seribu hujatan menyerbu, tangan halusnya senantiasa mengusap lembut pipiku, membuatku merasa lebih tenang. Tapi sekarang, itu semua tak ada. Hanya menjadi kenangan indah bersamanya. Yang tersisa tinggallah penyesalan.
“Takdir,” ucapnya saat terakhir menatap lekat padaku. Hanya uraian air mata yang bisa kupersembahkan padanya. Ribuan kata yang kususun rapi dalam otakku lenyap begitu saja. Mulutku terkunci rapat bersama gemuruh rasa penyesalan yang bergejolak di dada.
“Aku menyesal, aku benar-benar menyesal atas semua perbuatanku. Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri ....” Aku merintih menahan rasa perih yang tiba-tiba bersarang di hatiku. Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku di saat-saat terakhir.
Hingga sekarang, rasa penyesalan itu masih kuat melekat. Jika bisa, ingin kuputar waktu dan memperbaiki kesalahanku. Tapi, aku tahu itu mustahil. Tak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Hanya bisa menangis menahan rindu dan penyesalan ketika malam menyapa. Sebagai penggantinya, setiap hari selalu kupandangi wajah yang tersenyum manis dalam bingkai foto berukuran jumbo di dinding kamarku. Namun, ternyata itu sama sekali tak cukup mengobati rinduku. Semakin menatap wajah itu, semakin menggunung saja rasa rinduku.
       Suasana sepi tiba-tiba menyergapku. Benar-benar hening. Tersadar, ternyata aku memang benar-benar sendiri disini. Duduk bersimpuh di atas basahnya rumput hijau karena embun.
           “Kenapa harus aku yang mengalami ini?” aku berbisik lemah.
          “Aku tau, aku memang berdosa, tapi kenapa Tuhan harus menghukumku seperti ini?” aku mulai terisak perlahan.
        “Maafkan aku sudah membuatmu menderita karenaku. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu. Aku memang durhaka. Andai kau tau, aku sangat menyesal. Kembalilah padaku! Aku benar-benar merindukanmu, Ibu ....” Aku merintih pada gundukan tanah merah di depanku. Namun ia hanya terdiam mendengar aduanku.

========== THE END ==========
readmore...

Kinanti



Kinanti, gadis desa dengan kecantikan bak seorang bidadari. Kulitnya putih mulus laksana mutiara yang belum tersentuh tangan-tangan nista. Perawakannya tinggi dan langsing mengalahkan model tingkat ibukota. Setiap dia berjalan kemanapun tak hentinya mata-mata sang kumbang melirik, bahkan tak sedikit pula yang mengajaknya berkenalan. Tapi, mereka hanya akan mendapatkan seuntai senyum manis Kinanti sambil lalu. Sepertinya memang tak ada harapan bagi mereka untuk mendapatkan kembang desa yang satu itu.

Sejak kecil Kinanti memang telah diajarkan prinsip-prinsip agama yang dianutnya. Tak ada kedekatan antara laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan muhrim. Tak ada lirik sana lirik sini, berjabat tangan pun tak ada. Sampai saat ini pun Kinanti masih memegang teguh apa yang telah menuntunnya ke jalan yang mulia itu. Sebenarnya dalam hati Kirana telah menantikan seorang pemuda yang dengan berani datang pada kedua orang tuanya untuk meminangnya. Seorang pemuda yang dapat menjadi imamnya, seorang pemuda yang mencintai dirinya karena Allah. Tapi, sampai saat ini pun pemuda yang dimaksud belum juga mampir ke kehidupannya.

Saat ini Kinanti telah lulus kuliah dan telah memperoleh gelar S,Ag. Kegiatan sehari-harinya adalah mengajar di salah satu SD di dekat rumahnya. Walaupun masih menjadi pengajar honorer, tapi semangatnya tak pernah padam dalam membagi ilmunya pada anak-anak didiknya.

Setiap pagi Kinanti selalu berjalan kaki menyusuri jalan di desanya untuk dapat sampai di tempat dia mengajar. Setiap pagi pula para pemuda di desanya selalu menantikannya di depan rumah mereka masing-masing. Sambil bersiul-siul genit.

“Suit..suit... Hai Kinanti! Nanti malam ikut abang nonton yuk!” Sapa seorang pemuda ketika Kinanti berangkat kerja.

“Maaf, Bang! Kinanti nggak bisa. Permisi, Assalamu’alaikum!” Begitulah jawaban Kinanti yang selalu dia lontarkan ketika ada pemuda yang mengajaknya keluar.

“Ah, suka jual mahal deh si eneng ni!” balas pemuda itu agak kesal. Tapi, hanya dibalas dengan seuntai senyum manis Kinanti.

Sudah sering Kinanti mengalami kejadian seperti itu. Dan tak banyak pula pemuda yang akhirnya kesal pada jawaban Kinanti yang selalu sama, tapi anehnya mereka belum menyerah juga.

Kinanti lalu mempercepat jalannya untuk menghindari pemuda lain yang ingin menggodanya. Tapi, tanpa di sadarinya di perempatan dekat SD Kinanti berpapasan dengan seorang pemuda tampan.

“Assalamu’alaikum Kinanti!” sapa pemuda itu.

“Wa’alaikumussalam, eh Bang Rizal!” jawab Kinanti. Ya, pemuda itu bernama Rizal, masih satu desa dengan Kinanti juga merupakan senior Kinanti di kampunya dulu.

Rizal, pemuda yang tampan. Tak sedikit pula gadis di desa maupun di tempat kuliahnya dulu yang menaruh hati pada Rizal. Tapi, sama halnya dengan Kinanti, Rizal selalu berlaku cuek terhadap mereka.

“Mau ngajar ya?” tanya Rizal.

“Iya, Bang. Bang Rizal sendiri mau berangkat kerja ya?” tanya Kinanti sambil tersipu malu. Entah kenapa setiap bertemu Rizal, Kinanti tak dapat menyembunyikan perasaan malunya yang entah berasal dari mana. Rizal pun demikian, setiap bertemu Kinanti selalu salah tingkah dan sama-sama tak berani beradu mata, karena memang seharusnya itu dilarang.

“Ya udah saya pamit dulu ya, takut telat. Assalamu’alaikum.” Begitulah Rizal berpamitan pada Kinanti yang langsung dijawab oleh Kinanti.

“Wa’alaikumussalam.”

Lalu keduanya berpisah, itulah rutinitas Kinanti setiap pagi. Walaupun sebenarnya kesal karena selalu digoda para pemuda di desanya, tapi entah mengapa Kinanti selalu merasa senang kalau bisa bertemu Rizal. Perasaan itu sudah dirasakan sejak pertama kali bertemu Rizal di kampus, begitu pula dengan Rizal. Tapi, mereka berdua tidak berani mengumbar perasaan itu satu sama lain, yang ada ya hanya kejadian seperti tadi itu. Saling sapa dengan malu-malu.

Rizal, ya dialah yang telah mencuri hati Kinanti selama ini. Sebenarnya Kinanti sangat menginginkan pemuda seperti Rizal untuk dapat menjadi imamnya kelak. Rizal pun demikian, tapi belum ada keberanian dalam dirinya untuk datang pada orang tua Kinanti dan meminangnya. Tapi, dalam hati Rizal akan secepatnya menemui orang tua Kinanti. Dengan bekal keyakinan dan keimanannya pada Allah, dia akan memberanikan diri meminang Kinanti. Jikalau pun ada penolakan dari Kinanti, Rizal sudah siap. Semuanya sudah dipersiapkan olehnya.

Hari ini adalah hari Minggu. Dimana kebanyakan orang menggunakan hari ini untuk bisa berkumpul bersama keluarga mereka setelah enam hari bergelut dengan kegiatan mereka masing-masing. Begitupun dengan Kinanti, hari ini ia tidak pergi kemana-mana. Pagi ini suasana cerah sekali, dengan langit biru yang diselingi awan putih. Tak ketinggalan sinar mentari yang dengan gagah berani menerangi seluruh jagad raya. Memancarkan kehangatan bagi makhluk-makhluk di bumi.

Kinanti tengah asyik menyelesaikan pekerjaan menyulamnya ketika ada suara orang mengucap salam dari depan rumahnya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Kinanti yang berbarengan dengan ibunya.

“Kinanti, coba kau lihat, siapa itu yang diluar!” ucap ibunya.

“Iya Bu, sebentar.” Kinanti menghentikan pekerjaannya dan bangkit dari tempat duduknya yang berada di ruang tengah. Ketika sampai di ruang depan dan melihat siapa yang ada di sana, Kinanti tak dapat menyembunyikan kekagetannya.

“Lho? Bang Rizal? Mau cari siapa Bang?” tanya Kinanti salah tingkah.

“Aku kesini mau cari ayah kamu. Beliau ada?” jawab Rizal.

“Oh iya, ada. Silahkan masuk dan duduk dulu! Saya panggilkan ayah sebentar ya.” pamit Kinanti.
  
Dengan langkah yang terburu-buru dan fikiran yang tak menentu, Kinanti mencari ayahnya yang ada di kebun belakang rumah. Dadanya berdesir dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada apakah ini? Tanyanya dalam hati.

“Ayah....” Kinanti menemukan ayahnya tengah mencangkok pohon mangga yang berada di kebunnya.

“Ada apa Kinanti?” tanya ayahnya penasaran.

“Mmm...dicari Bang Rizal, Yah!”

“Ada keperluan apa ya?”

“Kinanti kurang tau, Yah. Coba Ayah temui dulu!”

Ayah Kinanti kemudian bergegas mencuci tangannya dan menemui Rizal di ruang depan yang ternyata sudah ada bersama ibu Kinanti. Sedangkan Kinanti sibuk membuat minuman untuk Rizal.
  
“Ada apa ya Nak Rizal mencari saya?” tanya ayah Kinanti to the point.

“Begini Pak, ada yang perlu saya bicarakan sama Bapak.” jawab Rizal dengan sopan.

“Iya, silakan saja!”

“Sebelumnya maafkan saya, kalau saya lancang datang kesini. Sebenarnya, kedatangan saya kesini adalah untuk melamar putri Bapak, Kirana.”

Deg.... Kirana yang mendengar itu dari balik pintu sambil membawa nampan berisi 2 cangkir teh dan sepiring roti serasa melayang entah kemana. Tangannya gemetaran dan keringat mulai muncul dari dahinya yang tertutup kerudung putih, sampai-sampai kerudungnya terlihat basah. Mulutnya terkunci rapat dan matanya nampak berkaca-kaca.

Hening mulai memenuhi ruang depan setelah Rizal selesai mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Ayah Kinanti pun terlihat tak bisa berkata apa-apa saking kagetnya. Dia tak menyangka bahwa putrinya kini telah beranjak dewasa dan sudah ada pria yang ingin mengambil alih tanggung jawabnya melindungi sang putri tercinta.

“Yah, saya tidak bisa menjawab lamaran kamu sebelum ada persetujuan dari putri saya.” Akhirnya kalimat ayah Kinanti itulah yang memecah keheningan di ruang itu.

“Kinanti....kesini sebentar Nak!” panggil ayah Kinanti.

“I-iya, Yah, sebentar!” jawab Kinanti sambil mengusap air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya yang putih bersih.

Kinanti berjalan dengan tangan masih bergetar menghampiri ayahnya sambil membawa nampan. Sambil tertunduk malu, Kinanti meletakkan nampannya di meja dan menyuguhkan minuman serta kue pada Rizal.

“Bagaiman Kinanti? Ayah yakin tadi kamu sudah mendengar semua percakapan kami. Ayah serahkan semua keputusan padamu, ayah hanya tinggal merestui pilihanmu saja.” tawar ayahnya.

Lama kinanti tak menjawab. Pikirannya kosong, melayang entah kemana. Tak sadar Kinanti pelan tapi pasti menganggukkan kepalanya. Terpancar wajah cerah Rizal yang dengan malu-malu meliriknya sedari tadi. Alhamdulillah. Ucap batin Rizal. Ayah dan ibu Kinanti pun mengembangkan senyum mereka, terharu.

“Baiklah, kita sudah mendengar jawaban Kinanti. Nak Rizal, secepatnya kamu bawa kedua orang tua kamu kesini untuk secara resmi melamar putriku, sembari nanti kita tentukan tanggal pernikahan kalian. Lebih cepat lebih baik.” Kata ayah Kinanti penuh semangat.

“Iya Pak, insyaAllah tiga hari lagi saya akan bawa orang tua saya.”

Begitulah, hari itu Kinanti merasa menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi. Senyum manis tak henti-hentinya menghiasi wajahnya yang cantik jelita. Semburat merah merona tak ketinggalan menghinggapi pipinya putih bersih. Kinanti merasa impiannya selama ini telah dikabulkan oleh Allah. Ucapan syukur pun tak henti ia ucapkan.

Sehari sebelum lamaran resmi.

Hari ini Kinanti berencana pergi ke kota untuk membeli keperluannya mengajar. Senyum masih menghiasi wajahnya, malah semakin berseri saja. Sampai-sampai ibu Kinanti heran dibuatnya. Tak pernah ibunya melihat putri satu-satunya sebahagia itu.

“Nak, apa perginya tidak bisa setelah lamaran saja?” tanya ibu Kinanti saat Kinanti berpamitan.

Nggak apa-apa kok, Bu. Lagi pula barang-barang harus segera Kinanti dapatkan sebelum kehabisan lagi.” Jawab Kinanti.

“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Nak!” pesan ibunya.

“Iya, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Kinanti pun berangkat ke kota dengan berjalan kaki sampai jalan besar dan dilanjutkan dengan naik angkutan kota jurusan Kota Baru. Langkahnya penuh semangat menyusuri jalan setapak penuh batu di desanya. Panas terik matahari seakan takkan mampu menghentikan langkahnya. Langkah semangat seorang guru yang sangat mencintai murid-muridnya sehingga rela menempuh jarak yang begitu jauh untuk menyenangkan para muridnya.

Tak terasa semangatnya telah mengantar Kinanti sampai ke tempat tujuan. Segera ia mencari apa yang ia perlukan dan buru-buru pulang agar tak kemalaman dan membuat ibunya khawatir. Tapi, harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Hari sudah semakin senja dan ia belum juga mendapatkan kendaraan untuk kembali pulang ke desanya. Sudah berjam-jam Kinanti menunggu angkutan kota yang lewat, tapi tak satupun yang muncul. Akhirnya, Kinanti terpaksa berjalan kaki setelah mengerjakan sholat Ashar di masjid terdekat. Tapi, Kinanti bersyukur hari ini tidak turun hujan, sehingga tak masalah buatnya untuk berjalan kaki.

Setelah kira-kira satu jam ia berjalan, dari jauh terdengar suara adzan Maghrib. Bergegas Kinanti mencari masjid terdekat untuk menunaikan kewajibannya. Segera Kinanti mengambil air wudhu. Tetes demi tetes wajahnya dibasuh air wudhu, terasa kesejukan menghinggapi relung kalbunya. Ketenangan mulai menghinggapi jiwanya. Seakan tak ada yang perlu ia khawatirkan, hidupnya kini hanya milik Tuhan pencipta alam semesta.

Setelah menunaikan kewajibannya, Kinanti kembali menyusuri jalan kota yang berangsur-angsur diselimuti kegelapan malam. Semakin lama kakinya terasa semakin pegal, serasa tak kuat lagi berjalan. Peluh pun mulai merayapi seluruh tubuhnya. Disaat seperti itulah, tiba-tiba ada suara seseorang menghampirinya.

“Neng, ojek Neng!” tawar orang itu sambil menjajari langkah Kinanti dengan motornya.

Nggak usah, Bang! Saya naik angkutan kota saja.” tolak Kinanti.

“Waduh Neng, kalau sudah jam segini nggak ada lagi angkot yang lewat. Mendingan sama saya aja, dijamin aman sampai rumah deh. Bagaimana?” tukang ojek itu tak mau menyerah. Kinanti mulai memikirkan kata tukan ojek itu. Benar juga ya, jam segini mana ada lagi angkot yang lewat?

“Baiklah Bang. Tolong antar saya ke desa ya!” pinta Kinanti.

“Siap, Neng.” Dengan girang tukang ojek itu memberikan helm pada Kinanti dan siap melajukan motornya di tengah kegelapan malam.

Motor itu mulai menyusuri jalan gelap pinggir kota. Tak ada lampu atau penerangan apapun selain lampu motor. Juga tak ada seorang pun yang melintasi jalan itu. Rasa curiga dan takut tiba-tiba menghinggapi Kinanti.

“Kok sepi sekali ya, Bang? Apa benar jalan ini bisa sampai ke desa?” tanya Kinanti mulai ragu. Tapi, tukang ojek itu diam tak bersuara, malah mulai memelankan laju motornya.

“Kenapa, Bang?” tanya Kinanti mulai gemetaran. Dalam hati ia berdzikir terus pada Allah, meminta-Nya untuk selalu memberi perlindungan pada hamba-Nya.

Tiba-tiba tukang ojek itu pun menghentikan motornya. Berbalik menghadap pada Kinanti dan membekapnya. Selang beberapa menit Kinanti sudah tak sadarkan diri. Selanjutnya, yang terjadi adalah perlakuan bejat tukang ojek bak binatang pada Kinanti. Setelah puas menyalurkan nafsunya pada Kinanti, tukang ojek itupun pergi begitu saja meninggalkan Kinanti yang masih tak sadarkan diri.

Saat terbangun kepala Kinanti terasa berat. Tubuhnya serasa remuk tak dapat digerakkan. Matanya mulai mencari-cari cahaya ditengah kegelapan malam. Dan sedetik kemudian ia baru menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Matanya mulai menerawang kosong. Butiran-butiran bening berjatuhan di pipinya yang masih tetap putih bersih walau dirinya telah ternoda. Ia merasa seakan dirinya bagai seonggok daging yang sangat kotor, najis. Samar-samar terlintas wajah Rizal di benaknya. Seketika perasaan takut dan malu menghinggapi dirinya. Bagaimana bisa Rizal bisa menerimanya dengan keadaan seperti ini? Apa juga yang harus dikatakan pada kedua orang tuanya? Lalu bagaimana masa depannya kelak? Adakah orang yang mau dengan gadis kotor sepertinya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menghantui pikirannya saat ini.

Dengan langkah terseok-seok dan baju masih tak beraturan, Kinanti menyusuri jalan-jalan gelap menuju desanya. Pikirannya masih kosong, ia masih tak tau apa yang harus ia lakukan. Tapi, dengan langkah pasti, ia berjalan menuju rumahnya.

“Assalamu’alaikum.” Kinanti mengucap salam sambil sesenggukan.

“Wa’alaikumussalam.... Ya Allah, Kinanti! Apa yang terjadi padamu Nak?” Ibu Kinanti langsung memeluk anak semata wayangnya itu dengan erat. Kinanti menumpahkan semua air matanya di pelukan sang ibu. Sedangkan ayah Kinanti hanya terdiam di tempat.

Setelah mulai agak tenang, Kinanti mulai menceritakan musibah yang baru saja menimpanya. Reaksi orang tua Kinanti? Jelas, mereka sangat shock dan belum bisa menerima kejadian tersebut. Ibu Kinanti kembali memeluk anak kesayanganny itu sambil meneteskan air mata. Sedang ayah Kinanti masih terdiam dan matanya terlihat kosong. Walau sebenarnya hancur, tapi ayah Kinanti berusaha menenangkan putrinya itu. Ia berpikir bahwa itu adalah cobaan yang diberikan Allah pada keluarganya atau mungkin adalah sebuah peringatan. Ia hanya bisa bersabar dan tabah menghadapinya. Soal Rizal? Kinanti dan keluarganya berniat menceritakan apa yang baru saja dialami Kinanti padanya. Setelah itu, mereka serahkan semuanya pada Rizal dan akan menerima keputusannya.

Pagi yang ditunggu pun datang.

Pagi ini, seharusnya menjadi pagi yang indah bagi Kinanti. Tapi, berubah menjadi pagi yang menyeramkan setelah kejadian tadi malam. Sejak semalam, Kinanti tak henti-hentinya menangis. Bahkan sampai tak mengindahkan nasihat ayah dan ibunya. Dia masih merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia merasa tak pantas lagi untuk hidup.

Sejam kemudian tamu yang tak ingin Kinanti temui akhirnya datang juga, Rizal. Kinanti masih tak mau keluar kamar dan kedua orang tuanya pun memaklumi hal itu. Samar-samar Kinanti mendengar perbincangan kedua orang tuanya dengan keluarga Rizal.

“Begini Nak Rizal, sebenarnya ada yang mau Bapak sampaikan pada Nak Rizal dan keluarga.”

“Iya Pak, silakan.” 

“Sebenarnya tadi malam, ada peristiwa yang membuat keluarga kami terpukul, terutama Kinanti. Sebuah musibah yang mungkin adalah hal yang memalukan bagi kaluarga kami. Jika nantinya Nak Rizal dan keluarga mau membatalkan lamaran ini, saya bisa mengerti dan akan saya terima.” Jelas ayah Kinanti.

“Memangnya apa yang sudah terjadi pada Kinanti, Pak?” tanya Rizal penasaran.  

“Mmm...sebenarnya..tadi malam Kinanti mengalami musibah yang tidak kami duga sebelumnya, dan sama sekali tidak kami inginkan. Kinanti kehilangan kesuciannya.”

Deg... Kinanti serasa ingin pergi saja dari dunia ini, mendengar kata-kata ayahnya pada Rizal. Kinanti tidak siap dengan apa yang akan dikatakan Rizal selanjutnya. Suasana di ruang tamu menjadi hening setelah ayah Kinanti mengungkapkan semuanya. Rizal terdiam cukup lama, pun kedua orang tuanya. Tapi, tiba-tiba tanpa dinyana dan diduga, Rizal menampakkan segores senyum di wajahnya dan tak ada keraguan sedikitpun, ia mengatakan:

“Saya mencintai Kinanti karena Allah Ta’ala. Jadi, saya akan tetap menerima Kinanti apa adanya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~THE END~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
readmore...
Jasa Desain Cover