Social Icons

Kamis, 28 Maret 2013

Uranus

Uranus

Uranus adalah dewa dan personifikasi langit. Uranus merupakan putra Gaia dan kemungkinan Aither. Uranus menikahi ibunya dan menjadi penguasa dunia yang pertama.

Uranus bercinta dengan Gaia dan menjadi ayah dari para Hekatonkheire (raksasa bertangan seratus), Kiklops (raksasa bermata satu), dan Titan. Para Hekatonkheire dan Kiklops dikurung oleh Uranus di Tartaros karena rupa mereka yang buruk. Gaia marah dan mengajak anak-anaknya yang lain untuk memberontak melawan Uranus. Titan yang termuda, Kronos, menerima ajakan Gaia. Kronos memotong alat kelamin ayahnya dan melemparkannya ke laut. Alat kelamin itu ditutupi oleh buih dan terlahirlah Afrodit. Sementara darah Uranus yang terciprat ke bumi menjadi para Gigant, Erinyes dan Meliai.

Menurut Diodoros Sikolos, Uranus adalah seorang raja yang didewakan setelah meninggal. Uranus menikahi Titaia (Gaia) dan memiliki 45 orang putra, yang 15 di antaranya dikenal sebagai Titan. Uranus dalah penguasa pertama manusia. Putri sulungnya, Basileia (Theia), meneruskan pemerintahannya, bersama suaminya Hiperion.

Menurut mitos Orfik, Gaia dan Uranus bukanlah ibu dan anak, melainkan kakak-adik. Mereka merupakan anak Protogonos (Fanes) dan Niks.

Sumber: dari sini
readmore...

Gaia

Gaia

Gaia adalah dewi dan personifikasi bumi. Dia dsiebut juga Ge dan dikenal oleh orang Romawi sebagai Terra Mater dan Tellus. Menurut Diodoros Sikolos, nama lainnya adalah Titaia.

Gaia dilahirkan bersama dengan Niks (malam), Erebos, Tartaros, dan Eros (cinta). Tanpa pasangan (atau mungkin dengan Aither) Gaia melahirkan Uranus (langit), Ourea (pegunungan) dan Pontos (lautan).
Gaia bercinta dengan putranya Pontos dan melahirkan Nereus dan Forkis, keduanya merupakan dewa laut kuno.

Gaia menikahi putranya yang lain, Uranus, yang kemudian menjadi penguasa dunia. Dari Uranus, Gaia melahirkan para Hekatonkheire (raksasa bertangan seratus), Kiklops, dan Titan.

Ketika suaminya mengurung para Hekatonkheire dan Kiklops di Tartaros karena rupa mereka yang buruk dan ukuran mereka yang besar, Gaia bersekongkol dengan salah satu putranya, Kronos, untuk menggulingkan kekuasaan Uranus. Gaia memberi sebuah sabit kepada Kronos untuk memotong alat kelamin ayahnya dan melemparnya ke laut. Alat kelamin ini ditutupi oleh buih laut dan darinya terlahirlah Afrodit, dewi cinta. Sementara darah Uranus yang terciprat ke bumi (Gaia) membentuk makhluk-makhluk lainnya, yaitu para Gigant, Erinyes, dan Meliai.

Setelah dikebiri, Uranus digantikan oleh Kronos sebagai penguasa dunia. Kronos dan para Titan lainnya memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu di langit dan bumi. Kronos adalah Titan yang menciptakan Zaman Emas Manusia. Kronos menikahi saudarinya sendiri, Rea (Ops).

Namun kekuasaan Kronos juga terancam. Kronos menolak membebaskan para Hekatonkheire dan Kiklops dari Tartaros, akibatnya Gaia meramalkan bahwa Kronos akan kehilangan kekuasaannya oleh anaknya, seperti yang dulu dilakukannya terhadap Uranus. Kronos berusaha mencegah ramalan itu terjadi. Dia menelan setiap anak yang dilahirkan oleh istrinya. Zeus, putra keenam Rea, diselamatkan oleh ibunya. Rea menyembunyikan bayi Zeus di Kreta dan memberikan batu yang berbalut kain kepada Kronos untuk ditelan.
Dengan bantuan Gaia dan Okeanid Metis, Zeus berhasil membuat Kronos memuntahkan saudara-saudaranya dengan suatu ramuan. Perang pun pecah antara para Titan dan dewa Olimpus. Beberapa Titan memihak dewa Olimpus, termasuk Prometheus yang merupakan Titan tercerdas. Prometheus menasehati Zeus untuk membebaskan para Hekatonkheire dan Kiklops dan Tartaros. Dengan bantuan para raksasa itu, para dewa Olimpus berhasil mengalahkan para Titan dan mengurung mereka di Tartaros. Zeus lalu menjadi penguasa dunia, namun dia membagi wilayah kekuasaan bersama kedua saduaranya, Poseidon dan Hades.

Gaia kembali merasa tidak senang karena para Titan dikurung di Tartaros. Akibatnya Zeus dan para dewa Olimpus harus menghadapi bahaya lainnya. Yang pertama adalah monster naga Tifon, dan yang kedua adalah serangan para Gigant. Tifon adalah puutra Gaia dan Tartaros. Zeus berhasil mengalahkan Tifon meski tidak mudah. Sementara para Gigant diramalkan oleh Gaia bahwa mereka tidak akan dapat dikalahkan oleh para dewa Olimpus tanpa bantuan seorang pahlawan manusia. Dengan bantuan Herakles, para dewa Olimpus pun berhasil mengalahkan para Gigant.

Gaia juga bercinta dengan Poseidon dan melahirkan Antaios, yang dibunuh oleh Herakles, akibat menantang sang pahlawan bergulat. Antaios bertambah kuat jika menyentuh tanah, karena kekuatannya berasal dari ibunya.

Gaia memiliki kemampuan untuk meralam masa depan. Dia adalah pengelola orakel Delphi yang pertama, sebelum menyerahkannya kepada Themis, seorang Titan. Dia meramalkan kejatuhan putranya, Kronos. Dia juga memperingatkan Zeus bahwa putra Metis dapat menggulingkan kekuasaannya.

Dalam mitos Orfik, Gaia dan Uranus bukan ibu dan anak, melainkan dua bersaudara. Mereka adalah anak Protogonos (Fanes) dan Niks. Dia sedikit terlibat dalam mitos penciptaan versi Orfik. Niks versi Orfik nampaknya mengambil alih peran Gaia versi Hesiodos, karena adalah Niks yang memiliki kemampuan meramal, dan memberi nasehat kepada tiga penguasa dunia: Uranus, Kronos, dan Zeus.

Sumber: dari sini
readmore...

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas



Nyaman, mungkin sebuah kata yang sering kita dengar, bahkan sering kita baca dalam slogan-slogan iklan layanan masyarakat yang bertebaran di pinggir jalan. Namun, entah kenapa kata ‘nyaman’ tersebut hanyalah sebagai pemanis atau hanya sekadar pelengkap saja. Pada kenyataannya, banyak sekali fasilitas-fasilitas publik yang jauh dari kata nyaman. Jalanan yang berlubanglah, toilet yang tidak bersihlah, sarana transportasi yang kurang memadailah, dan banyak lagi yang sangat mengganggu bila kita menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Orang biasa saja sering merasa tidak nyaman menggunakan fasilitas publik yang ada, apalagi orang yang menyandang disabilitas. Mereka akan merasa jauh tidak nyaman dalam melakukan aktivitas mereka, risih mungkin. Sehingga banyak dari kaum disabilitas tersebut enggan keluar karena merasa tidak nyaman atau bahkan tidak aman apabila berada di luar dengan fasilitas publik yang tidak memadai bagi mereka.  


Kaum disabilitas sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih, meski mereka terkadang terlihat lebih tegar dan mandiri dibanding kita-kita yang normal. Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas yang diselenggarakan oleh Kartunet.com, bekerja sama dengan ASEAN Blogger Community, serta didukung oleh XL Axiata ini memberikan ruang tersendiri untuk menyuarakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas dalam hal aksesibilitas dan kenyamanan fasilitas publik. Seringkali saya melihat kaum disabilitas itu melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan orang lain, bahkan kebanyakan dari mereka terlihat seperti orang normal biasa. Berbaur dan bekerja seperti layaknya orang normal. Namun, semandiri-mandirinya mereka, tetap saja punya keterbatasan, sehingga ada kegiatan-kegiatan yang tak bisa mereka lakukan selayaknya orang normal. Nah, di sinilah pentingnya penyediaan fasilitas publik bagi penyandang disabilitas.
 
Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 1

Lihat gambar di atas? Bagaimana seandainya jika seorang tunadaksa (terutama kaki) dan tunanetra melewati trotoar tersebut? Keadaan seperti itu sangat membahayakan. Bukan hanya penyandang disabilitas saja yang merasa tidak aman, pejalan kaki lain pun merasa tidak nyaman dengan adanya lubang sebesar itu di trotoar. 

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 2


Gambar di atas memang tidak masalah, jika yang menggunakan orang normal biasa. Lain halnya jika yang menggunakan adalah seorang tunanetra. Bisa dibayangkan seberapa bahayanya jika seorang tunanetra melewati zebra cross tersebut. Apalagi jika keadaan jalan sedang ramai dan tidak ada petugas keamanan yang berjaga. Meski ada lampu rambu lalu lintas, tapi apa gunanya untuk seorang tunanetra?

Kartunet Kampaney Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 3


Bagaimana pendapat Anda dengan tempat penyeberangan di atas? Seandainya yang melewati adalah seorang yang berkursi roda atau penyandang tunadaksa, apa mungkin mereka akan dengan gampang melewati tangga tersebut seperti dua orang itu? Ditambah lagi, kalau sudah sampai di atas, lalu menjumpai hal seperti pada gambar di bawah ini:

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 4


Mungkin mereka harus mempunyai kesabaran lebih jika menghadapi situasi seperti gambar di atas. Dapat dilihat juga bahwa keadaan seperti gambar di atas sangat berbahaya bagi tunanetra. Mereka bisa-bisa celaka karena tidak melihat ada lubang sebesar itu di tengah jembatan. 

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 5
 
Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 6
Dua gambar di atas apa bisa dibilang situasi yang nyaman? Untuk ukuran orang normal saja itu sudah sangat tidak nyaman, apalagi untuk penyandang disabilitas. Seharusnya ada transportasi khusus bagi mereka penyandang disabilitas, sehingga tidak akan terjebak dalam keadaan seperti di atas. Apalagi terkadang ada kondektur yang memperlakukan penumpangnya dengan kasar (seperti yang sering saya alami), itu bakal menambah ketidaknyamanan penumpang. 

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 7
 
Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 8

Jadwal keberangkatan bus dan kereta seperti yang terlihat pada dua gambar di atas memang tampak biasa saja kalau orang normal yang melihat. Lain halnya jika yang ‘membaca’ jadwal tersebut adalah seorang tunanetra. Informasi apa yang bisa didapat dari papan-papan tersebut bagi seorang tunanetra? Beruntung jika mereka bersama keluarga yang bisa membantu, lha kalau sendirian bagaimana? Selain itu, pengumuman keberangkatan dan kedatangan armada maupun pengumuman yang diumumkan lewat pengeras suara di terminal dan stasiun, apa itu bisa diterima oleh seorang tunarungu? 

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas
Gambar 9


Dapat dilihat, di atas adalah gambar tombol lift. Alat ini memang memudahkan bagi seorang tunadaksa karena tidak harus melewai tangga yang menyulitkan. Bagaimana dengan seorang tunanetra? Memudahkan memang, karena tidak harus capek melewati tangga, tapi kalau seandainya mereka sendirian dan menjumpai tombol lift seperti itu, apa iya itu bisa jadi mudah bagi mereka?

Sebenarnya para penyandang disabilitas itu bukan orang yang lemah hingga kita harus memberikan perhatian yang berlebihan. Hanya saja, mereka itu membutuhkan sesuatu yang berbeda dengan kita, orang normal. Kebanyakan dari mereka memang tidak mau menggantungkan segala sesuatunya pada orang lain, mereka berusaha keras untuk mandiri dan itu sangat bagus menurut saya. Walaupun mereka mempunyai ‘kekurangan’, tapi mereka bisa mandiri. Nah, keinginan untuk mandiri tersebut harusnya didukung fasilitas yang memadai bagi mereka, sehingga mereka benar-benar bisa merasakan bagaimana mengerjakan segala sesuatunya sendiri, tidak harus selalu bergantung pada orang lain. Menurut saya itu bisa membuat semangat hidup mereka jauh lebih baik.

Salut kepada Kartunet.com, ASEAN Blogger Community dan XL Axiata yang peduli dengan masalah-masalah seperti dijabarkan di atas. Semoga semakin banyak gerakan-gerakan untuk menyuarakan aspirasi para disabilitas, menggandeng mereka dan menghilangkan sekat yang selama ini masih terlihat diantara kita (non disabilitas) dan mereka. 

Asal gambar:



readmore...
Jasa Desain Cover